rubianto.id

31 Januari 2026

Kehebatan Ilmu Diam: Kekuatan yang Sering Diremehkan

Di tengah dunia yang semakin bising—dipenuhi notifikasi, opini, debat di media sosial, dan tuntutan untuk selalu berbicara—diam justru menjadi sesuatu yang langka. Padahal, dalam banyak tradisi filsafat, spiritualitas, hingga psikologi modern, diam bukanlah kelemahan, melainkan sebuah ilmu. Bahkan, bisa disebut sebagai salah satu bentuk kecerdasan tertinggi dalam hidup manusia.

Diam Bukan Kosong, Tapi Penuh Makna

Banyak orang mengira diam berarti tidak tahu, tidak peduli, atau tidak mampu merespons. Padahal, diam adalah proses batin yang aktif. Saat seseorang memilih diam, ia sedang mengamati, menimbang, dan mengendalikan diri.

Dalam konteks ini, diam bukan ketiadaan suara, melainkan kehadiran kesadaran. Seperti air yang tenang, justru di sanalah pantulan paling jernih bisa terlihat.

Ilmu Diam dalam Perspektif Psikologi

Dalam psikologi, kemampuan untuk menahan diri dari reaksi impulsif disebut sebagai self-regulation atau regulasi diri. Orang yang mampu diam sebelum bereaksi cenderung:

  • Lebih stabil secara emosi
  • Lebih bijak dalam mengambil keputusan
  • Lebih kecil kemungkinan menyesal
  • Lebih mampu mengelola konflik
Diam memberi ruang antara stimulus dan respons. Dan di ruang itulah kebebasan manusia berada.

Diam sebagai Bentuk Kecerdasan Emosional

Daniel Goleman menyebut kecerdasan emosional sebagai kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi. Salah satu tanda kecerdasan emosional tinggi adalah:

-- Tidak semua hal perlu ditanggapi.

Orang yang emosinya matang tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus diam. Karena tidak semua kebenaran harus diumumkan, dan tidak semua kesalahan harus dibalas.

Ilmu Diam dalam Tradisi Spiritual

Dalam banyak tradisi:

  • Islam mengenal konsep samt (menjaga lisan)
  • Jawa mengenal falsafah meneng, menep, eling
  • Buddha menekankan noble silence
  • Para sufi mengatakan: “Diam adalah bahasa Tuhan”
Semua sepakat pada satu hal: diam adalah pintu menuju kebijaksanaan batin.

Bahkan ada ungkapan klasik:

-- “Jika perkataanmu lebih baik dari diam, maka berbicaralah. Jika tidak, maka diam lebih mulia.”

Diam di Era Media Sosial

Di zaman sekarang, semua orang berlomba untuk:

  • Berkomentar
  • Mengoreksi
  • Menilai
  • Menghakimi
Ironisnya, yang paling kuat justru sering adalah mereka yang tidak ikut ribut.

Ilmu diam di era digital berarti:

  • Tidak terpancing provokasi
  • Tidak membalas ujaran kebencian
  • Tidak perlu menjelaskan diri pada semua orang
  • Tidak menjadikan hidup sebagai panggung pembuktian
Diam menjadi bentuk perlawanan paling elegan terhadap kebisingan dunia.

Diam Bukan Pasrah, Tapi Strategi

Penting dicatat: diam bukan berarti takut, lemah, atau menyerah. Diam adalah strategi sadar.

Seperti pepatah:

-- Singa tidak perlu mengaum setiap saat untuk menunjukkan dirinya singa.

Orang yang kuat tidak selalu paling vokal, tapi paling tenang menghadapi gejolak.

Kehebatan Sejati Ilmu Diam

Kehebatan ilmu diam terletak pada kemampuannya untuk:

  • Menjaga martabat diri
  • Menghindari konflik yang tidak perlu
  • Menjernihkan pikiran
  • Menguatkan intuisi
  • Melatih kedewasaan emosional
Diam mengajarkan kita bahwa tidak semua perang harus dimenangkan dengan kata-kata. Kadang, kemenangan terbesar adalah tetap utuh sebagai diri sendiri, tanpa perlu menjelaskan apa pun kepada dunia.

Diam sebagai Bentuk Kebijaksanaan Modern

Di dunia yang memuja kecepatan, reaksi, dan sensasi, diam justru menjadi bentuk revolusi sunyi. Ia melatih kita untuk tidak reaktif, tidak tergesa, dan tidak larut dalam drama kolektif.

Ilmu diam bukan tentang membungkam diri, melainkan tentang menghidupkan kesadaran.

Karena pada akhirnya, orang yang paling bijak bukan yang paling banyak bicara, melainkan yang tahu kapan harus diam, dan mengapa ia diam.

20 Januari 2026

ASIK dan Masa Depan Imunisasi Indonesia: Mengapa Pencatatan Digital Tak Bisa Ditunda Lagi

Imunisasi adalah salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif dan paling hemat biaya. Namun, keberhasilan imunisasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan vaksin, melainkan juga oleh kualitas pencatatan dan data. Di sinilah persoalan klasik Indonesia berulang: cakupan dilaporkan tinggi, tetapi di lapangan masih ditemukan anak yang belum lengkap imunisasinya. Transformasi pencatatan melalui aplikasi ASIK (Sehat Indonesiaku) menjadi jawaban yang relevan atas persoalan lama tersebut.

Selama bertahun‑tahun, pencatatan imunisasi di tingkat pelayanan dasar bertumpu pada buku kohort dan laporan manual berjenjang. Sistem ini tidak hanya menyita waktu tenaga kesehatan, tetapi juga rentan kesalahan, keterlambatan, dan duplikasi. Dalam konteks negara besar seperti Indonesia, pendekatan manual jelas tidak lagi memadai.

Data Imunisasi: Masalah Lama yang Terabaikan

Ketika terjadi kejadian luar biasa (KLB) campak, difteri, atau polio, evaluasi hampir selalu bermuara pada satu masalah: data imunisasi tidak akurat. Anak yang tercatat sudah imunisasi belum tentu benar‑benar terlindungi, sementara anak yang berpindah domisili sering kali hilang dari sistem pencatatan.

Masalah ini berdampak serius. Tanpa data individual yang baik, upaya menjangkau anak zero dose dan mencegah drop out imunisasi menjadi seperti menebak dalam gelap. Padahal, target eliminasi dan eradikasi penyakit menuntut presisi tinggi.

ASIK sebagai Titik Balik

Pencatatan digital imunisasi melalui ASIK menandai pergeseran paradigma: dari sekadar pelaporan agregat menuju data kesehatan berbasis individu. Setiap anak memiliki riwayat imunisasi yang dapat ditelusuri lintas waktu dan lintas wilayah.

Keunggulan ASIK tidak hanya pada aspek digitalisasi, tetapi juga pada kemampuannya digunakan secara offline, sehingga tetap relevan untuk daerah dengan keterbatasan jaringan. Data yang dicatat di Posyandu atau Puskesmas dapat disinkronkan ketika koneksi tersedia, tanpa harus menunda pelayanan.

Bagi pengelola program, ASIK memungkinkan pemantauan cakupan imunisasi secara lebih cepat dan mendekati kondisi riil di lapangan. Bagi tenaga kesehatan, sistem ini berpotensi mengurangi beban administrasi yang selama ini menyita energi.

Tantangan Implementasi: Jangan Tutup Mata

Meski menjanjikan, implementasi ASIK bukan tanpa hambatan. Masih ada tenaga kesehatan yang merasa terbebani oleh aplikasi baru, keterbatasan perangkat di fasilitas pelayanan dasar, hingga kekhawatiran soal kualitas data awal.

Namun, tantangan ini seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mundur. Justru sebaliknya, investasi pada pelatihan, pendampingan, dan infrastruktur digital harus dipercepat. Transformasi digital selalu memiliki kurva adaptasi, dan imunisasi tidak boleh tertinggal.

Mengapa ASIK Penting bagi Masa Depan Imunisasi

Ke depan, tantangan imunisasi akan semakin kompleks: mobilitas penduduk tinggi, misinformasi vaksin, serta tuntutan akuntabilitas publik yang makin besar. Tanpa sistem data yang kuat, program imunisasi akan terus bekerja dengan asumsi, bukan bukti.

ASIK membuka peluang integrasi data imunisasi dengan layanan kesehatan lain, bahkan dengan kebutuhan administratif seperti syarat masuk sekolah. Lebih dari itu, ASIK adalah fondasi menuju kebijakan imunisasi berbasis data nyata, bukan sekadar angka laporan.

Reformasi Cara Kita Melindungi Anak Indonesia

Pencatatan digital imunisasi melalui ASIK bukan sekadar proyek teknologi, melainkan reformasi cara kita melindungi anak Indonesia. Menunda atau setengah hati dalam implementasinya berarti membiarkan masalah lama terus berulang.

Jika Indonesia serius ingin mencegah KLB berulang dan mencapai target eliminasi penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, maka satu hal harus jelas: pencatatan digital bukan pilihan, melainkan keharusan.

15 Januari 2026

Vaksin Heksavalen: Satu Suntikan, Enam Perlindungan untuk Masa Depan Anak

Di tengah tantangan kesehatan anak yang semakin kompleks, imunisasi tetap menjadi fondasi utama pencegahan penyakit. Salah satu inovasi penting dalam dunia imunisasi adalah vaksin heksavalen—vaksin kombinasi yang kini semakin dikenal dan digunakan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Apa Itu Vaksin Heksavalen?

Vaksin heksavalen adalah vaksin enam dalam satu. Dalam satu kali suntikan, bayi mendapatkan perlindungan terhadap enam penyakit berbahaya sekaligus, yaitu:

  • Difteri
  • Tetanus
  • Pertusis (batuk rejan)
  • Hepatitis B
  • Polio
  • Infeksi Haemophilus influenzae tipe b (Hib)
Secara teknis, vaksin ini sering disebut sebagai DTP-HB-Hib-IPV. Artinya, berbagai antigen yang sebelumnya diberikan lewat beberapa suntikan terpisah kini digabungkan menjadi satu vaksin kombinasi.

Mengapa Vaksin Heksavalen Penting?

Bagi orang tua, imunisasi sering kali identik dengan tangisan bayi dan rasa khawatir. Vaksin heksavalen hadir sebagai solusi praktis karena:

  • Mengurangi jumlah suntikan, sehingga lebih nyaman bagi bayi
  • Memudahkan orang tua dalam mengikuti jadwal imunisasi
  • Meningkatkan cakupan imunisasi, karena risiko putus imunisasi lebih kecil
  • Efisien bagi layanan kesehatan, baik dari sisi waktu maupun logistik
Di balik kepraktisannya, vaksin heksavalen tetap memberikan perlindungan optimal yang setara dengan vaksin-vaksin tunggal.

Kapan Vaksin Heksavalen Diberikan?

Dalam program imunisasi anak, vaksin heksavalen biasanya diberikan pada usia:

  • 2 bulan
  • 3 bulan
  • 4 bulan
Jadwal ini merupakan periode penting karena sistem kekebalan bayi masih berkembang dan sangat membutuhkan perlindungan sejak dini.

Aman, Efektif, dan Teruji

Salah satu kekhawatiran orang tua adalah keamanan vaksin kombinasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa vaksin heksavalen:

  • Aman digunakan pada bayi
  • Efektif membentuk kekebalan terhadap enam penyakit sekaligus
  • Memiliki efek samping yang umumnya ringan dan sementara, seperti demam ringan atau nyeri di tempat suntikan
Efek samping berat sangat jarang terjadi, dan manfaat vaksin jauh lebih besar dibandingkan risikonya.

Peran Strategis dalam Kesehatan Masyarakat

Vaksin heksavalen tidak hanya melindungi individu, tetapi juga berkontribusi besar pada kesehatan masyarakat. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi:

  • Penularan penyakit dapat ditekan
  • Risiko wabah difteri, polio, atau pertusis dapat dicegah
  • Target herd immunity menjadi lebih mudah dicapai
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, vaksin kombinasi juga membantu memperkuat sistem imunisasi nasional secara berkelanjutan.

Investasi Kesehatan Sejak Dini

Imunisasi bukan sekadar prosedur medis, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas hidup anak. Vaksin heksavalen menawarkan cara yang lebih sederhana, efisien, dan modern untuk melindungi generasi masa depan dari penyakit berbahaya yang sebenarnya bisa dicegah.

Di tengah derasnya informasi yang sering kali membingungkan, satu hal tetap pasti: mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, dan vaksin heksavalen adalah salah satu wujud nyata dari upaya pencegahan tersebut.

9 Januari 2026

Nerimo Ing Pandum dan Kesehatan Mental: Belajar Menerima untuk Hidup Lebih Tenang

Kesehatan mental menjadi isu penting di era modern. Tekanan kerja, tuntutan sosial, serta paparan media sosial yang berlebihan membuat banyak orang hidup dalam kecemasan, stres, dan perasaan tidak pernah cukup. Dalam konteks ini, falsafah Jawa nerimo ing pandum menawarkan pendekatan sederhana namun mendalam untuk menjaga kesehatan mental.

Apa Itu Nerimo Ing Pandum dalam Perspektif Psikologis?

Nerimo ing pandum berarti menerima bagian hidup yang diberikan dengan ikhlas. Dari sudut pandang psikologi, sikap ini sejalan dengan konsep acceptance—kemampuan menerima realitas tanpa penolakan berlebihan.

Penerimaan bukan berarti menyerah, melainkan mengakui keadaan apa adanya agar energi mental tidak habis untuk melawan hal-hal yang berada di luar kendali. Individu yang mampu menerima kondisi hidupnya cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah dan ketahanan mental yang lebih baik.

Mengurangi Stres dan Kecemasan

Banyak gangguan kesehatan mental berakar dari keinginan mengendalikan segalanya. Ketika realitas tidak sesuai harapan, muncul frustrasi dan kecemasan. Nerimo ing pandum membantu seseorang memahami batas antara usaha dan hasil.

Dengan menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan, sistem saraf menjadi lebih tenang. Pikiran tidak terus-menerus berada dalam mode waspada, sehingga risiko stres kronis dan kelelahan mental dapat berkurang.

Melawan Budaya Membandingkan Diri

Media sosial mendorong budaya membandingkan diri yang tidak sehat. Melihat pencapaian orang lain sering memicu perasaan gagal, rendah diri, dan tidak berharga. Sikap nerimo mengajarkan bahwa setiap orang memiliki “pandum” dan garis hidup yang berbeda.

Dalam psikologi, kemampuan menerima diri sendiri (self-acceptance) terbukti berkaitan erat dengan kesejahteraan mental. Orang yang nerimo tidak menolak kenyataan dirinya, tetapi tetap berupaya berkembang tanpa kebencian pada diri sendiri.

Nerimo Bukan Berarti Pasif

Dalam konteks kesehatan mental, nerimo sering disalahartikan sebagai sikap pasrah yang dapat memperburuk keadaan. Padahal, nerimo yang sehat justru mencegah kelelahan emosional akibat ambisi berlebihan.

Prinsipnya sederhana:

  • Berusaha dengan sadar
  • Menerima hasil dengan lapang dada
  • Belajar dari pengalaman tanpa menyalahkan diri secara berlebihan
Pendekatan ini mirip dengan terapi modern seperti Acceptance and Commitment Therapy (ACT) yang menekankan penerimaan dan tindakan bernilai.

Dampak Positif bagi Kesehatan Mental

Menerapkan nerimo ing pandum secara konsisten dapat memberikan manfaat nyata, antara lain:

  • Menurunkan tingkat stres dan kecemasan
  • Meningkatkan rasa syukur dan kepuasan hidup
  • Mengurangi perfeksionisme berlebihan
  • Membantu pemulihan emosional setelah kegagalan
  • Meningkatkan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi
Praktik Nerimo dalam Kehidupan Sehari-hari

Sikap nerimo bisa dilatih melalui kebiasaan sederhana:
  • Refleksi harian – menerima apa yang sudah terjadi tanpa menyalahkan diri
  • Membatasi perbandingan sosial – khususnya di media sosial
  • Fokus pada proses, bukan hasil – menilai diri dari usaha, bukan hanya pencapaian
  • Melatih rasa syukur – menyadari hal kecil yang sudah dimiliki
  • Berani meminta bantuannerimo juga berarti menerima bahwa manusia bisa membutuhkan orang lain
Bukan Hanya Warisan Budaya

Nerimo ing pandum bukan hanya warisan budaya, tetapi juga strategi kesehatan mental yang relevan di era modern. Ia mengajarkan keseimbangan antara menerima dan berusaha, antara realitas dan harapan.

Dalam dunia yang menuntut kesempurnaan, nerimo adalah cara untuk tetap waras, utuh, dan manusiawi.

6 Januari 2026

Warung Rawisan Ninine Kutasari Purbalingga dan Pelajaran Gizi dari Dapur Desa

Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pola makan masyarakat—mulai dari konsumsi ultra-proses, gula berlebih, hingga makanan cepat saji—kehadiran warung makan desa seperti Warung Rawisan Ninine di Desa Karangcegak, Kecamatan Kutasari, Purbalingga, justru menawarkan pelajaran gizi yang sering kita lupakan. Tanpa label “sehat”, tanpa klaim “organik”, dapur tradisional ini secara alami mempraktikkan prinsip gizi seimbang berbasis kearifan lokal.

Menu andalan Warung Rawisan Ninine adalah ayam kampung opor rawisan, disajikan dengan ketupat dan sambal sederhana. Sekilas tampak seperti makanan tradisional biasa. Namun jika ditelaah dari perspektif gizi, hidangan ini mencerminkan pola makan masyarakat desa yang relatif lebih alami, minim proses, dan berbasis bahan segar—sesuatu yang kini justru dianjurkan dalam banyak pedoman kesehatan modern.

Ayam kampung, sebagai sumber protein utama, memiliki karakteristik berbeda dibanding ayam ras pedaging. Tekstur yang lebih padat menunjukkan kandungan protein yang baik, dengan lemak relatif lebih rendah. Daging ayam kampung juga tidak dipacu pertumbuhannya secara cepat, sehingga lebih dekat dengan konsep pangan alami. Dalam konteks kesehatan masyarakat, konsumsi protein hewani yang tidak berlebihan namun berkualitas merupakan kunci untuk menjaga massa otot, daya tahan tubuh, dan metabolisme.

Kuah opor di Warung Rawisan Ninine menggunakan santan, bahan yang sering kali dipersepsikan negatif karena kandungan lemak jenuhnya. Namun persoalan gizi tidak sesederhana “baik” atau “buruk”. Santan dalam masakan tradisional desa digunakan secukupnya, dimasak perlahan, dan tidak dikombinasikan dengan gula atau penguat rasa buatan. Lemak dari santan justru berfungsi sebagai sumber energi, membantu penyerapan vitamin larut lemak, serta memberi rasa kenyang lebih lama—berbeda dengan lemak tersembunyi dalam makanan ultra-proses.

Ketupat sebagai sumber karbohidrat juga menarik untuk dicermati. Dibandingkan nasi putih porsi besar, ketupat yang dipotong-potong memberi kontrol porsi yang lebih baik. Ini mencerminkan pola makan tradisional yang secara tidak sadar menghindari konsumsi karbohidrat berlebihan. Bagi masyarakat dengan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes atau hipertensi, pendekatan porsi seperti ini sangat relevan.

Yang jarang dibahas adalah cara memasak. Di Warung Rawisan Ninine, opor dimasak perlahan dengan api kecil. Metode ini membantu menjaga stabilitas rasa dan mengurangi kebutuhan akan bumbu instan. Dari sudut pandang gizi, masakan yang tidak bergantung pada penyedap buatan cenderung memiliki kandungan natrium lebih terkendali—faktor penting dalam pencegahan hipertensi.

Selain itu, penggunaan bumbu dapur tradisional seperti bawang, lengkuas, dan rempah lain memberikan manfaat fungsional. Rempah-rempah tidak hanya berfungsi sebagai penambah rasa, tetapi juga memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Dalam ilmu gizi modern, pendekatan ini sejalan dengan konsep functional food—makanan yang memberi manfaat kesehatan di luar nilai gizinya.

Warung Rawisan Ninine juga mengajarkan satu hal penting dalam kesehatan gizi: makan tidak tergesa-gesa. Suasana desa yang tenang, tanpa musik keras atau distraksi layar, mendorong orang makan lebih sadar (mindful eating). Kebiasaan ini terbukti membantu pengendalian asupan, meningkatkan kepuasan makan, dan mencegah makan berlebihan.

Dari perspektif kesehatan masyarakat, keberadaan warung tradisional seperti ini menjadi penyeimbang arus makanan cepat saji. Ia menyediakan alternatif pangan yang relatif sehat, terjangkau, dan sesuai dengan budaya lokal. Ini penting, sebab perubahan pola makan masyarakat sering kali bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena keterbatasan pilihan yang sehat dan mudah diakses.

Namun, Warung Rawisan Ninine juga mencerminkan tantangan gizi ke depan. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada makanan instan dan modern, sementara dapur tradisional dianggap kuno. Jika pola ini terus berlanjut, bukan hanya cita rasa yang hilang, tetapi juga pola makan sehat berbasis lokal yang selama ini menopang kesehatan masyarakat desa.

Dalam konteks promosi kesehatan, warung seperti Ninine seharusnya tidak hanya dipandang sebagai objek wisata kuliner, tetapi juga sebagai contoh praktik pangan sehat berbasis budaya. Edukasi gizi tidak selalu harus datang dari poster atau seminar; ia bisa hadir dari sepiring opor ayam kampung yang dimasak dengan cara benar dan dikonsumsi dengan porsi wajar.

Pada akhirnya, Warung Rawisan Ninine mengingatkan kita bahwa kesehatan tidak selalu lahir dari makanan mahal atau tren diet global. Kadang, jawabannya justru ada di dapur desa—di mana makanan dimasak perlahan, dimakan dengan tenang, dan dihargai sebagai bagian dari kehidupan. Dalam kesederhanaan rawisan opor ayam kampung, tersimpan pelajaran gizi yang relevan untuk masyarakat modern: kembali pada keseimbangan, kealamian, dan kearifan lokal.

1 Januari 2026

Super Flu di Indonesia: Ancaman Baru atau Sensasi Istilah?

Belakangan ini, istilah “super flu” ramai dibicarakan di Indonesia. Media online, grup percakapan, hingga obrolan warung kopi mulai menaruh perhatian pada varian influenza yang disebut-sebut lebih cepat menular dan menyebabkan gejala lebih berat. Pertanyaannya: apakah super flu benar-benar ancaman baru, atau sekadar istilah sensasional?

Apa yang Dimaksud dengan Super Flu?

Istilah super flu bukan istilah medis resmi. Dalam dunia kesehatan, yang dimaksud adalah varian baru virus influenza, khususnya Influenza A (H3N2) subclade K, yang dalam beberapa bulan terakhir terdeteksi di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Virus influenza memang dikenal mudah bermutasi. Setiap tahun, selalu ada perubahan kecil pada struktur virus yang bisa memengaruhi daya tular, respons imun, dan efektivitas vaksin.

Perkembangan Kasus di Indonesia

Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) telah mendeteksi varian Influenza A (H3N2) subclade K, yang oleh sebagian media disebut “super flu”, sejak 25 Desember 2025 dan hingga akhir Desember tercatat 62 kasus di 8 provinsi di Indonesia. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan anak-anak. Jumlah kasus yang terdeteksi masih relatif terbatas dan sejauh ini tidak menunjukkan lonjakan kematian atau keparahan ekstrem seperti yang pernah terjadi pada awal pandemi COVID-19.

Pemerintah menegaskan bahwa kondisi masih terkendali, meski masyarakat tetap diminta waspada, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.

Mengapa Disebut “Super”?

Label “super” muncul bukan karena virus ini sepenuhnya baru, melainkan karena beberapa karakteristik:

  • Penularan relatif cepat, terutama di ruang tertutup dan kerumunan
  • Gejala terasa lebih berat bagi sebagian orang, seperti demam tinggi, nyeri otot, dan batuk berkepanjangan
  • Daya tahan tubuh pasca-COVID-19 yang berbeda-beda, sehingga respons terhadap infeksi flu terasa lebih kuat

Namun, para ahli menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah kuat bahwa virus ini lebih mematikan dibanding influenza musiman biasa.

Antara Kewaspadaan dan Kepanikan

Di sinilah tantangan komunikasi kesehatan muncul. Istilah “super flu” mudah menarik perhatian, tetapi juga berpotensi menimbulkan kepanikan berlebihan.

Belajar dari pengalaman pandemi, masyarakat kini lebih sensitif terhadap isu penyakit menular. Sayangnya, sensitivitas ini kadang tidak diiringi literasi kesehatan yang memadai, sehingga istilah populer sering dianggap sebagai ancaman besar tanpa memahami konteks ilmiahnya.

Bagaimana Peran Vaksin Influenza?

Vaksin influenza tetap menjadi perlindungan terbaik terhadap penyakit berat dan komplikasi, meskipun efektivitasnya bisa sedikit berbeda pada tiap varian. Yang perlu dipahami, tujuan utama vaksin flu bukan mencegah infeksi 100%, melainkan:

  • Mengurangi keparahan gejala
  • Menurunkan risiko rawat inap
  • Melindungi kelompok rentan

Dengan kata lain, vaksin masih relevan, bahkan di tengah munculnya varian baru.

Langkah Sederhana yang Tetap Efektif

Tanpa perlu panik, ada langkah-langkah sederhana yang terbukti efektif:

  • Mencuci tangan secara rutin
  • Menggunakan masker saat sakit atau di kerumunan
  • Istirahat cukup dan menjaga daya tahan tubuh
  • Tidak memaksakan aktivitas saat mengalami gejala flu berat

Kebiasaan ini mungkin terasa “klasik”, tetapi justru menjadi benteng utama menghadapi berbagai penyakit pernapasan.

Waspada Tanpa Drama

Super flu seharusnya dilihat sebagai pengingat, bukan ancaman menakutkan. Virus influenza akan terus berevolusi, dan itu adalah bagian dari dinamika alamiah penyakit menular.

Yang lebih penting dari istilahnya adalah respons kita: tetap waspada, kritis terhadap informasi, dan tidak terjebak sensasi. Dengan pendekatan berbasis sains dan perilaku hidup sehat, masyarakat Indonesia bisa menghadapi super flu—atau flu apa pun namanya—tanpa kepanikan berlebihan.

28 Desember 2025

R₀ Tidak Pernah Berbohong: Mengapa Kebijakan Imunisasi Nasional Tak Bisa Ditawar

Dalam perdebatan publik tentang imunisasi, sering muncul pertanyaan: “Apakah imunisasi harus diwajibkan?” atau “Bukankah cukup jika sebagian masyarakat saja yang ikut?”

Pertanyaan-pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sains epidemiologi memberi jawaban yang tegas melalui satu konsep kunci: Basic Reproduction Number (R₀).

R₀ tidak mengenal opini, tidak tunduk pada keyakinan, dan tidak bisa dinegosiasikan. Ia hanya menjelaskan satu hal: seberapa cepat sebuah penyakit menyebar ketika tidak ada kekebalan di masyarakat.

R₀: Angka Kecil dengan Dampak Besar

R₀ adalah rata-rata jumlah orang yang dapat tertular dari satu orang sakit dalam populasi yang sepenuhnya rentan. Jika R₀ lebih besar dari 1, wabah akan tumbuh. Jika kurang dari 1, wabah akan padam.

Masalahnya, banyak penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi justru memiliki R₀ yang sangat tinggi. Campak, misalnya, memiliki R₀ antara 12 hingga 18. Artinya, satu orang sakit dapat menularkan ke belasan orang lain dalam waktu singkat. Dalam kondisi ini, kebijakan imunisasi tidak boleh setengah-setengah.

Mengapa Negara Harus Hadir dalam Imunisasi

Kebijakan imunisasi nasional sering dikritik sebagai bentuk “pemaksaan negara”. Namun kritik ini mengabaikan fakta penting: penyakit menular bukan masalah individu, melainkan masalah kolektif.

Ketika R₀ tinggi:

  • Keputusan satu orang untuk tidak imunisasi berdampak pada banyak orang
  • Bayi, lansia, dan kelompok rentan menjadi korban pertama
  • Beban kesehatan publik meningkat

Di sinilah peran negara menjadi sah dan perlu. Imunisasi nasional bukan soal membatasi kebebasan, melainkan melindungi hak hidup masyarakat luas.

R₀ Menjelaskan Mengapa Target Imunisasi Harus Tinggi

Sering muncul anggapan bahwa cakupan imunisasi 70–80 persen sudah cukup. R₀ membantah asumsi ini.

Untuk penyakit dengan R₀ tinggi:

  • Campak membutuhkan cakupan sekitar 95 persen
  • Difteri dan polio di atas 85 persen
  • Sedikit penurunan cakupan saja bisa membuka kembali pintu wabah

Karena itu, kebijakan imunisasi nasional menetapkan target tinggi dan menekankan pemerataan wilayah. Angka ini bukan angka politik, tetapi angka ilmiah.

Pelajaran dari Wabah yang Terulang

Indonesia dan banyak negara lain telah belajar dengan cara mahal:

ketika cakupan imunisasi menurun karena keraguan publik, hoaks, atau penolakan berbasis ideologi, penyakit yang semula terkendali kembali muncul.

Wabah difteri dan campak yang berulang menunjukkan satu hal:

R₀ tetap tinggi, sementara kekebalan kelompok melemah.

Dalam konteks ini, kebijakan imunisasi nasional bukanlah kegagalan, melainkan korban dari ketidakpatuhan kolektif.

Imunisasi Bukan Sekadar Program Kesehatan

Jika dilihat dari kacamata R₀, imunisasi nasional adalah:

  • Instrumen pengendalian risiko
  • Bentuk investasi kesehatan jangka panjang
  • Upaya menjaga stabilitas sosial dan ekonomi

Negara yang abai terhadap imunisasi sedang mempertaruhkan generasinya pada hukum alam penularan penyakit—dan hukum ini selalu menang.

Saatnya Berpihak pada Data

Dalam isu imunisasi, perdebatan sering dibingkai sebagai konflik antara negara dan individu. Padahal, jika R₀ dijadikan titik tolak, persoalannya menjadi jelas:

tanpa kebijakan imunisasi nasional yang kuat, penyakit dengan R₀ tinggi akan selalu menang.

R₀ tidak bernegosiasi.

Ia hanya menunggu celah.

Dan tugas kebijakan publik adalah memastikan celah itu tidak pernah ada.

20 Desember 2025

Waspada! Ini Penyakit yang Mengintai dari Genangan Air Pasca Banjir

Banjir memang menyisakan lumpur, sampah, dan kerusakan lingkungan. Namun, ancaman terbesar sering kali justru datang setelah air surut. Genangan air yang tertinggal di jalan, halaman rumah, selokan, hingga wadah tak terpakai dapat menjadi sumber berbagai penyakit berbahaya bagi masyarakat.

Setiap musim hujan, peningkatan kasus penyakit akibat genangan air banjir kerap dilaporkan di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi lingkungan yang lembap, air tercemar, dan sanitasi yang terganggu menjadi kombinasi ideal bagi berkembangnya bakteri, virus, hingga nyamuk pembawa penyakit.

Berikut beberapa penyakit yang paling sering muncul akibat genangan air pasca banjir dan perlu diwaspadai bersama.

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Genangan air bersih yang tersisa setelah banjir merupakan tempat favorit nyamuk Aedes aegypti berkembang biak. Akibatnya, kasus DBD sering meningkat beberapa minggu setelah banjir.

Gejala umumnya meliputi demam tinggi mendadak, nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, serta munculnya bintik merah pada kulit. Jika tidak ditangani dengan cepat, DBD dapat berakibat fatal.

Leptospirosis: Penyakit dari Air Tercemar Urin Tikus

Leptospirosis menjadi salah satu penyakit yang paling sering dikaitkan dengan banjir. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang terdapat dalam urin tikus dan hewan lainnya, lalu mencemari air banjir dan genangan.

Bakteri masuk ke tubuh melalui luka kecil di kulit atau selaput lendir. Gejalanya antara lain demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, hingga mata dan kulit menguning. Tanpa pengobatan, leptospirosis dapat menyebabkan gagal ginjal dan kematian.

Diare dan Penyakit Saluran Pencernaan

Air banjir biasanya tercemar limbah rumah tangga, tinja, dan sampah. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit saluran pencernaan seperti diare, disentri, hingga kolera.

Diare pascabanjir sering menyerang anak-anak dan lansia karena daya tahan tubuh yang lebih lemah. Dehidrasi berat menjadi komplikasi paling berbahaya jika tidak segera ditangani.

Malaria dan Penyakit Akibat Nyamuk Lainnya

Selain DBD, genangan air juga menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Anopheles, pembawa malaria. Di beberapa wilayah endemis, banjir dapat mempercepat penyebaran penyakit ini.

Gejala malaria meliputi demam tinggi, menggigil, berkeringat, dan tubuh terasa sangat lemas. Tanpa pengobatan, malaria dapat menimbulkan komplikasi serius.

Penyakit Kulit dan Infeksi Jamur

Kontak langsung dan berulang dengan air kotor dapat menyebabkan berbagai penyakit kulit, seperti gatal-gatal, dermatitis, infeksi jamur, hingga luka bernanah.

Kaki yang terus terendam air banjir juga berisiko mengalami trench foot atau infeksi akibat kelembapan berlebihan. Meski terlihat ringan, penyakit kulit dapat menjadi pintu masuk infeksi yang lebih serius.

Infeksi Saluran Pernapasan

Rumah yang lembap setelah banjir memicu pertumbuhan jamur dan bakteri di udara. Kondisi ini meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan penderita asma.

Batuk berkepanjangan, sesak napas, dan demam sering muncul beberapa hari setelah banjir.

Tetanus Akibat Luka Tersembunyi

Banjir sering menyembunyikan benda tajam seperti paku, kaca, atau logam berkarat. Luka kecil yang terkena kotoran tanah dapat menjadi jalan masuk bakteri penyebab tetanus, terutama pada mereka yang belum mendapat imunisasi lengkap.


Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Agar terhindar dari penyakit akibat genangan air banjir, masyarakat disarankan untuk:

  • Menghindari kontak langsung dengan air banjir sebisa mungkin.
  • Menggunakan sepatu boots dan sarung tangan saat membersihkan sisa banjir.
  • Menguras dan menutup semua tempat yang berpotensi menampung air.
  • Memastikan air minum bersih dan makanan higienis.
  • Segera membersihkan tubuh dengan sabun setelah beraktivitas di area banjir.
  • Memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala penyakit.

Genangan air pascabanjir bukan sekadar masalah kebersihan, tetapi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Kewaspadaan, perilaku hidup bersih, dan penanganan lingkungan yang cepat menjadi kunci utama untuk mencegah munculnya berbagai penyakit.

Dengan langkah pencegahan yang tepat, dampak kesehatan akibat banjir dapat ditekan dan kualitas hidup masyarakat tetap terjaga.

18 Desember 2025

Soto Kudus: Semangkuk Kecil yang Menyimpan Cerita Besar

Soto Kudus bukan sekadar hidangan berkuah yang menghangatkan perut. Kuliner khas dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah ini menyimpan cerita sejarah, nilai budaya, dan pesan toleransi yang masih relevan hingga hari ini. Disajikan dalam mangkuk kecil dengan kuah bening yang gurih, Soto Kudus berhasil mencuri hati banyak pencinta kuliner Nusantara.

Lebih dari Sekadar Soto

Jika dibandingkan dengan soto dari daerah lain, Soto Kudus memiliki keunikan tersendiri. Kuahnya bening, ringan, dan tidak bersantan. Rasanya gurih namun tidak berat, membuatnya cocok disantap kapan saja—baik pagi, siang, maupun malam hari.

Ciri paling mencolok adalah porsinya yang relatif kecil. Namun jangan salah, meski tampak sederhana, kekayaan rasa dan aromanya justru menjadi kekuatan utama Soto Kudus.

Jejak Sejarah dan Nilai Toleransi

Keistimewaan Soto Kudus tidak bisa dilepaskan dari sejarah masyarakat Kudus yang menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Secara tradisional, Soto Kudus menggunakan daging kerbau sebagai pengganti daging sapi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan suci.

Nilai saling menghormati inilah yang kemudian melekat kuat pada identitas Soto Kudus. Hingga kini, meskipun banyak warung menyajikan versi ayam atau sapi, filosofi toleransi tersebut tetap menjadi bagian dari ceritanya.

Rahasia Kelezatan Soto Kudus

Kuah Soto Kudus dibuat dari kaldu ayam atau kerbau yang direbus perlahan bersama rempah-rempah seperti bawang putih, ketumbar, lengkuas, dan daun salam. Proses ini menghasilkan aroma harum dan rasa gurih alami tanpa perlu tambahan santan.

Isiannya pun sederhana, biasanya berupa suwiran ayam atau irisan daging, tauge, dan telur rebus. Sentuhan bawang putih goreng dan taburan seledri semakin memperkaya cita rasa.

Pelengkap yang Tak Terpisahkan

Soto Kudus hampir selalu disajikan bersama nasi putih terpisah. Untuk menyesuaikan selera, tersedia berbagai pelengkap seperti sambal rawit, sambal kecap, kecap manis, dan perasan jeruk nipis.

Sebagai teman makan, banyak warung Soto Kudus juga menyediakan lauk tambahan seperti tempe goreng, tahu goreng, perkedel kentang, hingga kerupuk atau emping. Kombinasi sederhana ini justru membuat pengalaman menyantap Soto Kudus terasa lengkap.

Soto Kudus di Zaman Sekarang

Kini, Soto Kudus tidak hanya bisa dinikmati di kota asalnya. Di berbagai kota besar, Soto Kudus hadir sebagai menu favorit di rumah makan tradisional maupun modern. Meski tampil lebih variatif, esensi Soto Kudus sebagai hidangan ringan, bersih, dan penuh makna tetap dipertahankan.

Popularitasnya yang terus bertahan membuktikan bahwa Soto Kudus bukan sekadar tren kuliner, melainkan warisan rasa yang diwariskan lintas generasi.

Dalam semangkuk kecil Soto Kudus, tersaji lebih dari sekadar kuah dan daging. Ada cerita tentang kesederhanaan, sejarah, dan toleransi yang menyatu dalam cita rasa. Tak heran jika Soto Kudus terus dicari dan dicintai, menjadi bukti bahwa kuliner tradisional Indonesia memiliki kekuatan cerita yang tak lekang oleh waktu.

14 Desember 2025

Manfaat Tidak Memiliki Media Sosial: Hidup Lebih Tenang di Era Serba Online

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bangun tidur membuka Instagram, istirahat kerja melihat TikTok, sebelum tidur mengecek WhatsApp. Namun, di tengah arus tersebut, muncul fenomena menarik: semakin banyak orang memilih tidak memiliki media sosial—atau setidaknya berhenti menggunakannya secara aktif.

Keputusan ini sering dianggap aneh atau ketinggalan zaman. Padahal, tidak memiliki media sosial justru membawa banyak manfaat bagi kesehatan mental, produktivitas, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Pikiran Lebih Tenang dan Minim Stres

Media sosial kerap menjadi sumber stres tanpa disadari. Berita negatif, konflik di kolom komentar, perbandingan hidup dengan orang lain, hingga tekanan untuk selalu terlihat “bahagia” dapat membebani pikiran.

Tanpa media sosial:

  • Tidak ada dorongan membandingkan diri dengan orang lain
  • Tidak terpapar drama dan konflik daring
  • Pikiran lebih fokus pada kehidupan nyata

Hasilnya, hidup terasa lebih tenang dan emosional lebih stabil.

Lebih Fokus dan Produktif

Notifikasi yang terus berbunyi memecah konsentrasi. Banyak orang berniat membuka media sosial “sebentar”, namun akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam tanpa sadar.

Tidak memiliki media sosial membantu:

  • Mengurangi distraksi
  • Meningkatkan fokus kerja dan belajar
  • Menghemat waktu untuk hal yang lebih bermanfaat
Waktu yang biasanya habis untuk scrolling bisa dialihkan untuk membaca, berolahraga, atau mengembangkan keterampilan.

Hubungan Sosial Lebih Berkualitas

Ironisnya, meski media sosial menghubungkan banyak orang, hubungan yang terbangun sering kali dangkal. Interaksi hanya sebatas “like”, komentar singkat, atau emoji.

Tanpa media sosial:

  • Interaksi lebih banyak terjadi secara langsung
  • Percakapan lebih bermakna dan mendalam
  • Hubungan emosional terasa lebih nyata
Kualitas pertemanan meningkat meski jumlahnya mungkin lebih sedikit.

Privasi Lebih Terjaga

Media sosial mendorong pengguna untuk membagikan kehidupan pribadi: lokasi, aktivitas harian, hingga perasaan terdalam. Tanpa disadari, ini membuka celah pelanggaran privasi.

Tidak memiliki media sosial berarti:

  • Data pribadi lebih aman
  • Tidak merasa wajib membagikan kehidupan pribadi
  • Lebih bebas menjalani hidup tanpa pengawasan publik
Hidup terasa lebih autentik karena tidak harus “dipamerkan”.

Rasa Percaya Diri Lebih Sehat

Media sosial sering menciptakan standar hidup yang tidak realistis. Foto sempurna, tubuh ideal, dan kesuksesan instan membuat banyak orang merasa “kurang”.

Tanpa paparan tersebut:

  • Rasa syukur meningkat
  • Harga diri tidak bergantung pada validasi online
  • Kepercayaan diri tumbuh secara alami
Seseorang lebih fokus pada pertumbuhan diri, bukan penilaian orang lain.

Kesehatan Mental Lebih Terjaga

Berbagai penelitian menunjukkan hubungan antara penggunaan media sosial berlebihan dengan kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Menghindarinya dapat menjadi langkah preventif yang sederhana namun efektif.

Manfaat yang dirasakan:

  • Tidur lebih nyenyak
  • Emosi lebih stabil
  • Risiko kecanduan digital berkurang
Tidak memiliki media sosial bukan berarti anti-teknologi atau menutup diri dari dunia. Ini adalah pilihan sadar untuk mengelola waktu, emosi, dan perhatian dengan lebih bijak.

Di tengah dunia yang bising dan serba cepat, menjauh dari media sosial bisa menjadi cara sederhana untuk menemukan kembali ketenangan, fokus, dan makna hidup yang lebih dalam.

Kadang, bukan dengan menambah koneksi digital hidup menjadi lebih baik—melainkan dengan menguranginya.

13 Desember 2025

Penolakan Imunisasi karena Keyakinan Agama: Tantangan Serius dalam Mencapai Cakupan Imunisasi Optimal

Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif dalam mencegah penyakit menular berbahaya seperti campak, difteri, polio, dan pertusis. Namun, keberhasilan program imunisasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan vaksin, tetapi juga oleh penerimaan masyarakat. Salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia, adalah penolakan imunisasi karena keyakinan agama.

Penolakan ini tidak selalu bersifat individual, melainkan sering muncul secara kolektif dalam komunitas religius tertentu. Ketika penolakan terjadi secara luas, dampaknya dapat menurunkan capaian imunisasi dan meningkatkan risiko terjadinya wabah penyakit yang seharusnya dapat dicegah.

Keyakinan Agama sebagai Faktor Penolakan Imunisasi

Keyakinan agama memengaruhi cara individu memandang kesehatan, penyakit, dan intervensi medis. Dalam konteks imunisasi, pengaruh ini muncul dalam beberapa bentuk utama.

Pertama, keraguan terhadap kehalalan vaksin. Pada masyarakat religius, khususnya di negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, isu halal–haram menjadi pertimbangan penting. Ketidakjelasan bahan atau proses pembuatan vaksin sering memunculkan kekhawatiran bahwa vaksin mengandung unsur yang dilarang oleh ajaran agama. Ketika informasi ini tidak dijelaskan secara memadai, keraguan dapat berubah menjadi penolakan.

Kedua, pandangan teologis tentang takdir dan penyakit. Sebagian individu meyakini bahwa penyakit merupakan kehendak Tuhan yang tidak perlu dicegah melalui intervensi medis. Dalam pandangan ini, vaksinasi dianggap sebagai bentuk kurangnya keimanan atau ketergantungan berlebihan pada usaha manusia.

Ketiga, pengaruh tokoh agama. Tokoh agama memiliki otoritas moral yang sangat kuat di komunitasnya. Dukungan tokoh agama terhadap imunisasi terbukti dapat meningkatkan penerimaan vaksin, sebaliknya sikap ragu atau penolakan dari tokoh agama sering kali diikuti oleh masyarakat secara luas.

Keempat, norma dan tekanan sosial berbasis agama. Dalam komunitas yang homogen secara religius, keputusan individu sering dipengaruhi oleh norma kelompok. Orang tua yang sebenarnya tidak menolak imunisasi dapat mengurungkan niatnya karena takut dikucilkan atau dianggap melanggar nilai komunitas.

Dampak Penolakan Imunisasi terhadap Capaian Kesehatan Masyarakat

Penolakan imunisasi berbasis agama tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada masyarakat luas. Ketika sejumlah kelompok menolak vaksinasi, terbentuklah kantong-kantong populasi rentan yang dapat menjadi sumber penularan penyakit.

Cakupan imunisasi yang rendah menyebabkan kekebalan kelompok (herd immunity) tidak tercapai. Akibatnya, penyakit menular mudah menyebar kembali, bahkan di wilayah yang secara umum memiliki cakupan imunisasi cukup tinggi. Bayi, lansia, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu menjadi kelompok yang paling berisiko.

Selain itu, wabah penyakit akibat rendahnya cakupan imunisasi meningkatkan beban sistem kesehatan, mulai dari meningkatnya angka rawat inap hingga pembengkakan biaya penanggulangan kejadian luar biasa. Semua ini sebenarnya dapat dicegah jika cakupan imunisasi tetap terjaga.

Implikasi bagi Kebijakan dan Program Kesehatan

Memahami penolakan imunisasi sebagai fenomena sosial–religius memberikan pelajaran penting bahwa pendekatan kesehatan masyarakat tidak dapat bersifat satu arah. Edukasi medis saja sering kali tidak cukup.

Pendekatan yang lebih efektif meliputi:

  • kolaborasi dengan tokoh agama untuk menyampaikan pesan kesehatan yang sejalan dengan nilai keagamaan,
  • komunikasi yang transparan mengenai bahan dan proses pembuatan vaksin, termasuk status kehalalan,
  • pendekatan empatik kepada keluarga dan komunitas, bukan konfrontatif,
  • serta penguatan literasi kesehatan untuk menangkal misinformasi yang beredar di lingkungan religius.

Ketika nilai agama dan tujuan kesehatan masyarakat dapat dipertemukan, penerimaan imunisasi cenderung meningkat.

7 Desember 2025

Stres Manusia Modern Setara dengan Stres Menghadapi Seekor Singa: Tinjauan Neurobiologis dan Psikososial

Stres merupakan reaksi adaptif tubuh untuk menghadapi ancaman internal maupun eksternal. Pada masa prasejarah, ancaman utama berupa predator, kondisi alam ekstrem, dan kompetisi fisik. Ancaman tersebut memicu respons stres akut yang memfasilitasi kelangsungan hidup (Sapolsky, 2004). Namun, pada era modern, bentuk stres bergeser ke arah tuntutan sosial, pekerjaan, finansial, dan digital (McEwen, 2007). Meskipun berbeda secara bentuk, organisme manusia tetap mengaktifkan mekanisme neurobiologis yang sama. Hal ini menimbulkan fenomena di mana stres modern dapat menghasilkan intensitas fisiologis yang setara dengan stres menghadapi seekor singa, tetapi berlangsung secara lebih kronis.

Mekanisme Neurobiologis Stres

Respons stres dikendalikan oleh sumbu HPA (Hypothalamic–Pituitary–Adrenal) dan sistem saraf simpatis. Ketika individu menghadapi ancaman, hipotalamus memicu pelepasan CRH, diikuti ACTH dari pituitari, dan akhirnya kortisol dari kelenjar adrenal (Kemeny, 2003). Aktivasi simultan sistem simpatis menghasilkan peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan kesiapan motorik.

Pada konteks evolusioner, respons ini berfungsi untuk menghadapi ancaman predator seperti singa. Respons yang cepat dan intens bersifat adaptif terhadap ancaman fisik akut.

Stres Modern sebagai Pemicu Respons Evolusioner Lama

Pada era digital, ancaman tidak lagi berupa bahaya fisik, tetapi berupa tekanan pekerjaan, konflik interpersonal, tuntutan sosial, dan informasi berlebih. Namun otak limbik—khususnya amigdala—tidak membedakan ancaman fisik dan psikososial (LeDoux, 2012). Akibatnya, notifikasi dari ponsel, kritik atasan, atau tekanan ekonomi dapat memicu respons fisiologis serupa dengan menghadapi predator.

Perbedaan Stres Akut dan Stres Kronis

Stres menghadapi predator umumnya bersifat akut, intens, tetapi singkat. Setelah ancaman berlalu, tubuh kembali stabil. Sebaliknya, stres modern bersifat kronis karena bersumber dari masalah yang berlangsung lama: pekerjaan, ekonomi, pendidikan, dan media sosial (Lupien et al., 2009). Aktivasi sumbu HPA yang terus-menerus memicu allostatic load, yaitu kelelahan biologis akibat stres berkepanjangan (McEwen & Wingfield, 2010).

Dampak Kesehatan Stres Modern

Stres kronis berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan:

Dampak Fisiologis

  • hipertensi dan penyakit kardiovaskular
  • penurunan imunitas
  • gangguan tidur
  • masalah gastrointestinal
  • inflamasi kronis

Dampak Psikologis

  • kecemasan dan depresi
  • burnout
  • gangguan konsentrasi
  • kelelahan kognitif

Kondisi ini lebih berbahaya daripada stres akut karena bersifat terus-menerus tanpa resolusi yang jelas.

Implikasi bagi Kehidupan Modern

Relevansi temuan ini menunjukkan perlunya strategi pengelolaan stres yang terstruktur, meliputi:

  • regulasi pernapasan dan teknik relaksasi
  • aktivitas fisik teratur
  • manajemen waktu dan informasi
  • dukungan sosial
  • intervensi psikologis berbasis kognitif-perilaku

Pendekatan ini membantu menurunkan aktivasi sumbu HPA sehingga mengurangi beban fisiologis jangka panjang.

Respons stres manusia modern memiliki dasar biologis yang sama dengan respons ketika menghadapi ancaman ekstrem pada manusia purba, seperti serangan predator. Namun, karakteristik stres modern yang bersifat kronis menjadikannya lebih berbahaya bagi kesehatan. Kesetaraan respons fisiologis tersebut menunjukkan bahwa tubuh manusia belum sepenuhnya beradaptasi dengan perubahan lingkungan sosial modern yang kompleks. Dengan memahami mekanisme ini, diperlukan strategi pengelolaan stres yang komprehensif untuk menjaga kesehatan fisik dan mental di era modern.

Referensi:

Kemeny, M. E. (2003). The psychobiology of stress. Current Directions in Psychological Science, 12(4), 124–129.

LeDoux, J. (2012). The emotional brain: The mysterious underpinnings of emotional life. Simon & Schuster.

Lupien, S. J., McEwen, B. S., Gunnar, M. R., & Heim, C. (2009). Effects of stress throughout the lifespan on the brain, behaviour and cognition. Nature Reviews Neuroscience, 10(6), 434–445.

McEwen, B. S. (2007). Physiology and neurobiology of stress and adaptation: Central role of the brain. Physiological Reviews, 87(3), 873–904.

McEwen, B. S., & Wingfield, J. C. (2010). What is in a name? Integrating homeostasis, allostasis and stress. Hormones and Behavior, 57(2), 105–111.

Sapolsky, R. M. (2004). Why zebras don’t get ulcers: The acclaimed guide to stress, stress-related diseases, and coping. Holt Paperbacks.

22 November 2025

Vaksin dan Tuberkulosis (TB) Dewasa

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat paling serius di dunia. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis ini masih menjadi tantangan besar, terutama di negara berkembang. Indonesia termasuk dalam tiga besar negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Tingginya jumlah kasus tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga memengaruhi produktivitas, kondisi sosial-ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat.

Kelompok usia dewasa merupakan populasi yang paling banyak terinfeksi TB. Hal ini disebabkan oleh tingginya mobilitas, aktivitas sosial, dan risiko terpapar dalam lingkungan kerja maupun tempat tinggal yang padat. TB pada dewasa juga memiliki peran besar dalam rantai penularan, karena individu dewasa cenderung berinteraksi dengan lebih banyak orang setiap hari. Penularan biasanya terjadi melalui droplet yang keluar saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, sehingga orang dewasa dengan TB paru aktif berpotensi menjadi sumber penularan utama bagi keluarga dan masyarakat.

Di samping itu, berbagai faktor risiko dapat meningkatkan kerentanan orang dewasa terhadap TB, seperti status gizi yang buruk, merokok, diabetes mellitus, konsumsi alkohol, kondisi rumah yang tidak memenuhi standar kesehatan, serta akses layanan kesehatan yang terbatas. Kurangnya pengetahuan mengenai gejala TB, stigma sosial, dan keterlambatan dalam mencari pengobatan juga berkontribusi terhadap bertambahnya kasus TB yang tidak terdeteksi dan tidak tertangani secara tepat waktu.

Meskipun pemerintah telah menyediakan program penanggulangan TB, termasuk pemeriksaan dahak, layanan TCM, dan pengobatan OAT gratis, angka kesembuhan TB pada dewasa masih belum optimal. Tantangan utama yang sering muncul adalah kurangnya kepatuhan pengobatan, efek samping obat, dan ketidakpahaman pasien tentang pentingnya menyelesaikan terapi OAT hingga tuntas. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya TB resistan obat (TB RO), yang berdampak lebih berat dan membutuhkan pengobatan lebih lama serta lebih mahal.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa TB pada usia dewasa masih menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius. Penelitian mengenai faktor risiko, tingkat pengetahuan, perilaku pencegahan, kepatuhan pengobatan, atau faktor klinis pada pasien TB dewasa sangat penting untuk mendukung upaya pengendalian TB di masyarakat. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi TB pada populasi dewasa serta menjadi dasar dalam perencanaan intervensi dan program kesehatan yang lebih efektif.

Vaksin TB Dewasa

Tuberkulosis (TB) hingga saat ini masih menjadi salah satu penyebab kesakitan dan kematian tertinggi di dunia. Penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis ini terutama menyerang orang dewasa, yang memiliki mobilitas tinggi dan berpotensi menjadi sumber penularan utama dalam masyarakat. Meskipun berbagai program telah dijalankan, seperti deteksi dini, pengobatan OAT gratis, serta terapi pencegahan TB (TPT), penurunan angka kasus belum menunjukkan hasil signifikan. Hal ini menegaskan bahwa upaya pencegahan tambahan, termasuk vaksinasi, sangat penting untuk mengendalikan epidemi TB.

Sampai saat ini, satu-satunya vaksin TB yang tersedia secara luas adalah vaksin Bacillus Calmette–Guérin (BCG). Namun, vaksin BCG secara rutin hanya diberikan pada bayi dan terbukti terutama efektif mencegah bentuk TB berat pada anak, seperti meningitis TB dan TB milier. Efektivitas BCG dalam mencegah TB paru pada orang dewasa terbatas, sehingga tidak direkomendasikan sebagai vaksinasi ulang atau booster pada populasi dewasa. Keterbatasan ini membuat perlindungan imunologis terhadap TB pada usia dewasa masih lemah, padahal kelompok usia inilah yang paling banyak menjadi penyumbang kasus aktif dan penularan.

Berbagai penelitian telah mengembangkan kandidat vaksin baru yang ditujukan untuk remaja dan dewasa, seperti vaksin M72/AS01E, VPM1002, dan ID93 + GLA-SE. Beberapa di antaranya menunjukkan hasil menjanjikan dalam meningkatkan respon imun dan mencegah perkembangan TB laten menjadi aktif. Namun, hingga kini vaksin tersebut masih berada dalam tahap uji klinis dan belum tersedia untuk penggunaan massal. Ketersediaan vaksin TB yang efektif untuk dewasa di masa mendatang diharapkan dapat menjadi terobosan penting dalam pemutusan rantai penularan dan pengendalian TB secara global.

Situasi ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara kebutuhan perlindungan imunologis dan ketersediaan vaksin TB untuk populasi dewasa. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang mendalam mengenai pengetahuan, persepsi, kesiapan masyarakat, serta potensi implementasi vaksin TB dewasa ketika nantinya disetujui. Informasi tersebut penting sebagai dasar perencanaan kebijakan kesehatan, strategi edukasi, dan program imunisasi yang lebih efektif. Dengan demikian, penelitian tentang vaksin TB pada dewasa memiliki urgensi tinggi dalam mendukung upaya nasional dan global untuk mengurangi beban TB di masa depan.

21 November 2025

Hubungan Makan Bergizi Gratis dengan Kecerdasan Siswa

Kecukupan gizi merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi tumbuh kembang anak, terutama pada usia sekolah. Pada periode ini, anak membutuhkan asupan nutrisi yang memadai untuk mendukung aktivitas fisik, perkembangan otak, serta kemampuan belajar. Namun, di berbagai daerah, masih banyak siswa yang datang ke sekolah tanpa sarapan atau dengan konsumsi makanan bergizi yang tidak memadai. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan konsentrasi, kelelahan, kurangnya motivasi belajar, dan akhirnya berdampak pada pencapaian akademik.

Makanan Bergizi Menjadi Faktor Penting Perkembangan Otak

Nutrisi seperti protein, lemak sehat (omega-3), zat besi, yodium, vitamin B kompleks, dan asam folat berperan langsung dalam pembentukan sel otak, transmisi sinyal saraf, perkembangan memori dan konsentrasi. Program makan bergizi gratis memastikan semua siswa, termasuk dari keluarga kurang mampu, mendapatkan nutrisi tersebut secara cukup.

Meningkatkan Konsentrasi dan Kemampuan Fokus

Anak yang sarapan atau makan dengan gizi seimbang lebih mampu mempertahankan perhatian, mengerjakan tugas lebih cepat, mengikuti pelajaran tanpa mudah lelah. Dengan program gratis, siswa yang biasanya berangkat sekolah tanpa sarapan mendapat energi yang cukup.

Meningkatkan Daya Ingat dan Kecepatan Berpikir

Gizi adekuat membantu otak dalam proses penyimpanan memori, pengambilan informasi, pemecahan masalah. Ini berpengaruh pada kinerja akademik dan kecerdasan kognitif.

Menurunkan Angka Malnutrisi

Malnutrisi (seperti anemia atau kurang kalori) menurunkan kemampuan kognitif, IQ, ketahanan belajar. Program makan bergizi gratis membantu mencegah hal tersebut sehingga perkembangan kecerdasan lebih optimal.

Pemerataan Peluang Belajar

Makan bergizi gratis mengurangi kesenjangan antar siswa. Anak dari keluarga kurang mampu sering berisiko makan tidak teratur atau kurang gizi. Program ini memberikan kesempatan setara untuk berkembang secara intelektual.

Dampak Langsung pada Prestasi Akademik

Berbagai penelitian menunjukkan anak yang menerima makanan bergizi di sekolah memiliki nilai lebih tinggi, kehadiran lebih baik, motivasi belajar meningkat. Hal ini merupakan indikator tidak langsung dari kecerdasan yang berkembang lebih baik.

6 September 2025

Manfaat Rebusan Jahe Kunyit

Rebusan, dalam konteks kesehatan tradisional dan modern, merujuk pada proses ekstraksi senyawa aktif dari bahan alami, seperti rimpang atau herbal, melalui pemanasan dalam air.

Metode ini memungkinkan senyawa larut air berpindah dari bahan padat ke dalam medium cair, menciptakan minuman yang kaya akan metabolit sekunder yang berpotensi memberikan efek terapeutik.

Jahe (Zingiber officinale) dan kunyit (Curcuma longa) adalah dua rimpang yang telah lama digunakan dalam berbagai sistem pengobatan tradisional, termasuk Ayurveda dan Pengobatan Tradisional Cina, serta menjadi objek banyak penelitian ilmiah modern.

Pemanfaatan kedua bahan ini dalam bentuk rebusan memungkinkan penyerapan senyawa bioaktif seperti gingerol dari jahe dan kurkumin dari kunyit. Proses perebusan memecah dinding sel tumbuhan, melepaskan senyawa-senyawa penting yang kemudian dapat diserap oleh tubuh.

Konsumsi rebusan ini merupakan praktik yang umum di berbagai budaya untuk menjaga kesehatan dan mengatasi berbagai kondisi medis ringan, didukung oleh bukti ilmiah yang terus berkembang mengenai mekanisme kerja dan efektivitasnya.

Sifat Anti-inflamasi Kuat

Jahe dan kunyit dikenal luas karena sifat anti-inflamasinya yang poten, berkat kandungan gingerol, shogaol, dan kurkumin.

Senyawa-senyawa ini bekerja dengan menghambat jalur inflamasi dalam tubuh, seperti penghambatan aktivitas enzim COX-2 dan NF-B, yang merupakan mediator kunci dalam respons peradangan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal seperti “Journal of Medicinal Food” seringkali menyoroti kemampuan rimpang ini dalam mengurangi produksi sitokin pro-inflamasi.

Pengurangan peradangan kronis sangat penting untuk pencegahan dan pengelolaan berbagai penyakit degeneratif, termasuk penyakit jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Kombinasi kedua rimpang ini dalam bentuk rebusan dapat memberikan efek sinergis, memperkuat respons anti-inflamasi tubuh secara keseluruhan dan membantu meredakan kondisi yang berkaitan dengan peradangan.

Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Sifat anti-inflamasi dan antioksidan jahe serta kunyit secara tidak langsung berkontribusi pada penguatan sistem kekebalan tubuh. Dengan mengurangi peradangan kronis, tubuh dapat mengalokasikan lebih banyak energi untuk fungsi kekebalan yang optimal.

Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa dalam jahe dan kunyit memiliki sifat antimikroba yang dapat membantu melawan patogen.

Konsumsi rutin rebusan ini dapat membantu tubuh lebih siap menghadapi infeksi dan penyakit, mendukung respons imun yang sehat.

Peningkatan kekebalan tubuh adalah aspek krusial dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh dan mengurangi risiko terserang berbagai penyakit infeksi.

Mendukung Kesehatan Jantung

Jahe dan kunyit dapat berkontribusi pada kesehatan kardiovaskular melalui berbagai mekanisme. Sifat anti-inflamasi dan antioksidan mereka membantu melindungi pembuluh darah dari kerusakan oksidatif dan peradangan, faktor risiko utama penyakit jantung.

Beberapa penelitian juga menunjukkan potensi kurkumin dalam meningkatkan fungsi endotel, lapisan dalam pembuluh darah.

Selain itu, jahe dapat membantu menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, sementara kunyit berpotensi mencegah penggumpalan darah yang berlebihan.

Meskipun diperlukan lebih banyak penelitian, bukti awal menunjukkan bahwa konsumsi rutin rebusan ini dapat menjadi bagian dari strategi gaya hidup sehat untuk menjaga kesehatan jantung.

Meningkatkan Fungsi Otak dan Melindungi dari Penyakit Neurodegeneratif

Kurkumin dari kunyit memiliki kemampuan untuk melintasi sawar darah otak, yang memungkinkannya memberikan efek neuroprotektif.

Sifat anti-inflamasi dan antioksidannya dapat membantu mengurangi peradangan kronis dan kerusakan oksidatif di otak, yang merupakan faktor pemicu penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.

Kurkumin juga dapat meningkatkan kadar BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor), protein yang penting untuk pertumbuhan neuron baru.

Jahe juga menunjukkan potensi dalam meningkatkan fungsi kognitif dan melindungi otak. Peningkatan BDNF dan perlindungan terhadap stres oksidatif dapat berkontribusi pada peningkatan memori dan fungsi kognitif secara keseluruhan.

Rebusan ini berpotensi menjadi minuman pendukung kesehatan otak, membantu menjaga ketajaman mental seiring bertambahnya usia.

Mendukung Kesehatan Hati

Kunyit, khususnya kurkumin, telah banyak diteliti karena kemampuannya mendukung kesehatan hati.

Senyawa ini dapat membantu melindungi hati dari kerusakan yang disebabkan oleh toksin dan peradangan, serta berpotensi membantu dalam pengelolaan penyakit hati berlemak non-alkoholik (NAFLD) dengan mengurangi akumulasi lemak dan peradangan di hati.

Sifat antioksidan kurkumin sangat berperan dalam melindungi sel-sel hati dari stres oksidatif.

Meskipun jahe tidak secara langsung diteliti untuk kesehatan hati sebanyak kunyit, sifat anti-inflamasi dan antioksidannya secara umum mendukung fungsi organ.

Kombinasi kedua rimpang ini dalam rebusan dapat memberikan dukungan komprehensif untuk detoksifikasi dan regenerasi hati, mempromosikan fungsi hati yang optimal.

Potensi dalam Pengelolaan Berat Badan

Jahe dan kunyit dapat memiliki peran tidak langsung dalam pengelolaan berat badan. Jahe diketahui dapat meningkatkan termogenesis, yaitu proses pembakaran kalori oleh tubuh untuk menghasilkan panas, yang berpotensi meningkatkan metabolisme.

Selain itu, jahe juga dapat membantu mengurangi nafsu makan dan meningkatkan rasa kenyang, yang berkontribusi pada asupan kalori yang lebih rendah.

Kunyit, melalui efek anti-inflamasinya, dapat membantu mengatasi peradangan tingkat rendah yang sering dikaitkan dengan obesitas dan resistensi insulin. Dengan mengurangi peradangan, tubuh dapat berfungsi lebih efisien dalam metabolisme lemak dan gula.

Rebusan ini, sebagai bagian dari pola makan sehat dan gaya hidup aktif, dapat menjadi tambahan yang mendukung upaya penurunan atau pemeliharaan berat badan.

Membantu Pengelolaan Gula Darah

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jahe dan kunyit dapat memiliki efek positif pada regulasi gula darah.

Jahe dapat membantu menurunkan kadar gula darah puasa dan HbA1c pada penderita diabetes tipe 2, berpotensi dengan meningkatkan penyerapan glukosa oleh sel otot tanpa perlu insulin berlebihan.

Kurkumin juga telah diteliti karena kemampuannya untuk meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi resistensi insulin.

Meskipun kedua rimpang ini menjanjikan, konsumsi rebusan tidak boleh menggantikan obat-obatan diabetes yang diresepkan atau rekomendasi medis lainnya.

Namun, sebagai bagian dari diet seimbang dan gaya hidup sehat, rebusan jahe dan kunyit dapat menjadi tambahan yang bermanfaat untuk membantu pengelolaan kadar gula darah.

Potensi Antikanker

Kurkumin, senyawa aktif utama dalam kunyit, telah menjadi subjek penelitian ekstensif mengenai potensi antikankernya.

Studi laboratorium menunjukkan bahwa kurkumin dapat menghambat pertumbuhan sel kanker, menginduksi apoptosis (kematian sel terprogram) pada sel kanker, dan mencegah penyebaran tumor (metastasis). Jahe juga menunjukkan sifat kemopreventif dan antitumor dalam beberapa penelitian praklinis.

Meskipun sebagian besar penelitian ini masih dalam tahap awal (in vitro dan pada hewan), temuan ini sangat menjanjikan.

Konsumsi rebusan jahe dan kunyit dapat menjadi bagian dari pendekatan komplementer untuk mendukung kesehatan seluler, meskipun tidak boleh dianggap sebagai pengganti terapi kanker konvensional.

Meredakan Nyeri Sendi dan Otot

Efek anti-inflamasi yang kuat dari jahe dan kunyit menjadikannya agen alami yang efektif untuk meredakan nyeri sendi dan otot, terutama pada kondisi seperti osteoartritis dan nyeri otot pasca-olahraga.

Kurkumin dalam kunyit dan gingerol dalam jahe bekerja serupa dengan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) dalam menghambat jalur nyeri, namun dengan potensi efek samping yang lebih sedikit.

Berbagai studi klinis telah menunjukkan bahwa suplemen kurkumin dan jahe dapat secara signifikan mengurangi intensitas nyeri dan meningkatkan fungsi fisik pada penderita nyeri sendi.

Rebusan ini menawarkan pendekatan alami untuk manajemen nyeri, membantu meningkatkan kualitas hidup bagi individu yang menderita kondisi muskuloskeletal kronis.

Meredakan Mual dan Gangguan Pencernaan

Jahe secara tradisional telah lama digunakan untuk mengatasi mual, muntah, dan gangguan pencernaan lainnya, termasuk dispepsia dan kembung. Senyawa gingerol bekerja pada reseptor serotonin di saluran pencernaan dan otak, membantu mengurangi sensasi mual.

Kunyit juga berkontribusi pada kesehatan pencernaan dengan merangsang produksi empedu, yang penting untuk pencernaan lemak.

Rebusan jahe dan kunyit dapat memberikan efek menenangkan pada sistem pencernaan, mengurangi spasme usus dan memfasilitasi pergerakan makanan yang sehat.

Ini menjadikannya pilihan alami yang efektif untuk meredakan ketidaknyamanan gastrointestinal, baik yang disebabkan oleh mabuk perjalanan, kehamilan, atau gangguan pencernaan umum.

Potensi Antioksidan Tinggi

Kandungan antioksidan yang melimpah pada jahe dan kunyit, terutama kurkuminoid dan gingerol, berperan vital dalam menetralkan radikal bebas yang merusak sel.

Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat menyebabkan stres oksidatif, berkontribusi pada penuaan dini dan perkembangan penyakit kronis. Konsumsi rutin rebusan ini dapat membantu meningkatkan kapasitas antioksidan alami tubuh.

Studi in vitro dan in vivo telah menunjukkan bahwa kedua rimpang ini efektif dalam menangkal kerusakan oksidatif. Efek antioksidan ini tidak hanya melindungi sel dari kerusakan, tetapi juga dapat mendukung fungsi organ secara optimal.

Perlindungan terhadap stres oksidatif merupakan fondasi penting untuk menjaga kesehatan seluler dan integritas jaringan di seluruh tubuh.

30 Agustus 2025

KLB Campak di Sumenep dan Krisis Kepercayaan Vaksin

CAMPAK seharusnya sudah tidak lagi menjadi masalah besar kesehatan masyarakat. Vaksin yang aman dan efektif telah tersedia selama puluhan tahun. 

Namun, Kabupaten Sumenep di Madura baru saja menetapkan kejadian luar biasa (KLB) campak dengan lebih dari dua ribu kasus suspek dan 17 anak meninggal dunia. 

Pertanyaan penting muncul, “bagaimana penyakit yang dapat dicegah ini masih merenggut nyawa?” Jawabannya mengarah pada krisis kepercayaan terhadap vaksin. 

Secara medis, campak bukan hanya soal demam dan ruam. Virus ini memiliki angka reproduksi dasar 12-18, menjadikannya salah satu penyakit paling menular di dunia. Satu anak sakit dapat menularkan ke belasan orang lain dalam ruang yang sama. 

Setelah masuk ke tubuh, virus campak tidak berhenti di kulit. Virus ini merusak sistem kekebalan, menciptakan fenomena yang dikenal sebagai immune amnesia

Kekebalan yang sudah dibentuk terhadap penyakit lain hilang, membuat anak sangat rentan terhadap pneumonia, diare berat, dan infeksi telinga. Komplikasi inilah yang paling sering berujung pada kematian.

Pada sebagian kasus, campak juga dapat memicu ensefalitis akut, peradangan otak yang menyebabkan kejang, koma, hingga kematian. 

Bertahun-tahun kemudian, sebagian anak dapat mengalami Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), penyakit otak progresif yang sering berakibat fatal. 

Dalam kondisi gizi buruk, risiko kematian pun ikut meningkat. Tidak mengherankan bila WHO masih mencatat lebih dari 100.000 kematian akibat campak setiap tahun di seluruh dunia, terutama pada anak-anak yang tidak divaksinasi. 

Dengan kata lain, campak tetap berbahaya bila perlindungan vaksin diabaikan.

Ketika sains bertemu keyakinan 

Mengapa anak-anak di Sumenep masih belum terlindungi? Masalah utamanya bukan ketersediaan vaksin, tetapi penerimaan masyarakat. 

Madura adalah daerah dengan tradisi keagamaan yang sangat kuat. Pesantren dan kiai menjadi pusat otoritas moral. Keputusan vaksinasi sering kali bergantung pada legitimasi agama. 

Sejak polemik vaksin MR pada 2018, ketika status halal haram dipersoalkan, keraguan terhadap imunisasi melekat di ruang sosial. 

Meskipun Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa “boleh dengan alasan darurat”, stigma terlanjur terbentuk. Akibatnya, data KLB terbaru menunjukkan bahwa mayoritas anak yang meninggal belum pernah divaksin sama sekali.

Ini bukan masalah logistik atau teknis medis, tetapi kendala dalam membangun kepercayaan. 

Sumenep bukan satu-satunya contoh. Di Nigeria, vaksinasi polio sempat diboikot karena isu keagamaan, menyebabkan wabah kembali merebak setelah hampir terkendali. 

Di Pakistan dan Afghanistan, program vaksin polio berulang kali terganggu karena penolakan berbasis agama dan politik, sehingga anak-anak tetap lumpuh oleh penyakit yang seharusnya bisa dihapus dari dunia. 

Polanya sama, ketika otoritas keagamaan tidak dilibatkan atau ketika komunikasi publik lemah, sains tidak cukup untuk melindungi masyarakat. Indonesia kini menghadapi pola serupa di Sumenep. 

Pemerintah dihadapkan pada dilema menghormati keyakinan masyarakat atau menjalankan intervensi kesehatan berbasis data epidemiologi. 

Menunda berarti membiarkan risiko kematian meningkat. Namun, melangkah tanpa legitimasi sosial berarti berhadapan dengan penolakan yang bisa meluas. 

Jawaban tidak bisa dengan memilih salah satu. Jalan keluarnya adalah membangun jembatan antara sains dan keyakinan. 

KLB campak di Sumenep harus menjadi momentum untuk memperbaiki strategi imunisasi nasional. 

Pertama, melibatkan ulama dan pesantren sejak tahap awal program, bukan setelah penolakan muncul.

Kedua, menggunakan narasi keagamaan bahwa imunisasi adalah bagian dari menjaga kehidupan (hifz al-nafs) dan generasi (hifz al-nasl) sesuai maqasid syariah. 

Ketiga, mempercepat sertifikasi halal agar keraguan tidak terus menjadi alasan. 

Keempat, membangun komunikasi publik yang transparan dan konsisten, bukan sekadar kampanye teknis. 

KLB campak di Sumenep menunjukkan bahwa kesehatan publik tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan vaksin, tetapi juga oleh kepercayaan masyarakat terhadap otoritas yang mereka ikuti. 

Anak-anak yang meninggal bukan semata korban virus, melainkan korban patahnya jembatan antara sains dan keyakinan.

Indonesia, sebagai salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki tanggung jawab ganda, melindungi nyawa sekaligus menghormati keyakinan. 

Bila mampu menjawab tantangan ini, Indonesia tidak hanya menyelamatkan warganya, tetapi juga memberi pelajaran berharga bagi dunia tentang bagaimana menghadapi vaccine hesitancy berbasis agama dengan pendekatan yang komperhensif.

Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2025/08/28/07462831/klb-campak-di-sumenep-dan-krisis-kepercayaan-vaksin?page=all#google_vignette

15 Agustus 2025

36 Ribu Kasus Baru per Tahun, Kemenkes Genjot Imunisasi HPV Lewat Kampanye "Tenang untuk Menang 2025"

Kanker leher rahim masih menjadi salah satu ancaman kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data Globocan 2022, terdapat lebih dari 36.000 kasus baru kanker leher rahim di Indonesia, dengan lebih dari 20.000 kematian akibat penyakit ini. Padahal, kanker ini sebenarnya dapat dicegah, salah satunya dengan imunisasi HPV. Tanpa upaya pencegahan yang sistematis dan berkelanjutan, Indonesia diperkirakan akan kehilangan 1,7 juta perempuan pada 2070.

Melihat kondisi tersebut, kampanye edukasi kesehatan “Tenang untuk Menang 2025” resmi dimulai tanggal 24 Agustus 2025 di Bandung, menandai dimulainya rangkaian kegiatan tahun kedua yang akan digelar di berbagai wilayah Indonesia untuk mendorong kesadaran publik akan pentingnya pencegahan kanker leher rahim.

Diinisiasi oleh MSD Indonesia dan didukung oleh Kementerian Kesehatan RI, kampanye ini hadir dengan pendekatan yang lebih interaktif, partisipatif, dan dekat dengan komunitas. Kegiatan edukasi ini diikuti oleh ratusan siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas IX SMPN 2 Bandung, guru, tenaga kesehatan, serta ibu-ibu PKK dari wilayah Jawa Barat.

Mewakili Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., mengatakan pemerintah Indonesia berkomitmen kuat dalam mewujudkan masa depan yang lebih sehat bagi perempuan melalui implementasi Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023–2030. Ini bukan sekadar kebijakan, melainkan bentuk nyata perlindungan negara terhadap perempuan Indonesia.

Menurut dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., perjalanan menuju eliminasi ini adalah langkah panjang, namun sangat mungkin untuk dicapai dengan kerja sama dan komitmen lintas sektor. Tahun 2025,  Kementerian Kesehatan terus memperluas cakupan imunisasi HPV, termasuk untuk remaja perempuan usia 12 dan 15 tahun melalui imunisasi kejar. Kemenkes mengapresiasi kontribusi mitra seperti MSD yang terus aktif mendukung edukasi masyarakat. Bersama-sama untuk memastikan tidak ada perempuan Indonesia yang tertinggal dalam upaya pencegahan kanker leher rahim.

Indonesia menargetkan cakupan vaksinasi HPV 90% pada anak usia sekolah dasar kelas 5 dan 6 atau setara (11 dan 12 tahun) hingga 2030. Tahun 2025 menjadi momentum krusial untuk memperluas upaya eliminasi kanker leher rahim, seiring diperluasnya cakupan program imunisasi HPV yang kini menjangkau remaja perempuan usia 15 tahun melalui imunisasi kejar.

Menurut George Stylianou, Managing Director MSD Indonesia, setiap perempuan berhak untuk tahu, dilindungi, dan tumbuh menjadi perempuan hebat yang sehat dan kuat. ‘Tenang untuk Menang’ hadir bukan hanya untuk menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kesadaran dan mendorong tindakan nyata terkait pencegahan kanker leher rahim. Langkah kolaboratif ini menjadi salah satu upaya agar semakin banyak perempuan terlindungi sejak dini, dimulai dari edukasi.

Sebagai organisasi pemberdayaan masyarakat, khususnya keluarga, TP PKK Provinsi Jawa Barat memegang peran strategis dalam menyampaikan edukasi imunisasi HPV secara langsung di tingkat keluarga dan komunitas.

Pokja IV TP PKK Provinsi Jawa Barat, Winni Nurwini, SKM, M.Si., mengatakan melalui pendekatan ‘ibu ke ibu’ terbukti ampuh membangun kepercayaan dan kesadaran. Dengan jejaring yang luas, TPP PKK Provinsi Jawa Barat ingin memastikan edukasi terkait kanker leher rahim ini sampai ke rumah-rumah, menjadi gerakan yang menyentuh dan berdampak.

Hadir sebagai narasumber pada sesi edukasi kesehatan, Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr. Rodman Tarigan, Sp.A(K), menjelaskan mengenai pentingnya edukasi sejak dini mengenai Human Papillomavirus (HPV) sebagai penyebab utama kanker leher rahim. Vaksin HPV direkomendasikan sebagai imunisasi rutin pada anak usia 11 atau 12 tahun, sebelum terpapar oleh virus HPV. Jika terlewat, dua dosis vaksin HPV direkomendasikan untuk sebagian besar orang yang memulai rangkaian vaksin sebelum menginjak usia 15 tahun. Penting bagi setiap pihak memahami urgensi ini. Apalagi, berbagai bukti ilmiah telah menunjukkan bahwa vaksin HPV efektif dalam membantu mencegah infeksi HPV yang berisiko berkembang menjadi kanker leher rahim di kemudian hari.

Melanjutkan inisiatif yang dimulai pada 2024, Kampanye “Tenang untuk Menang 2025” akan dilaksanakan secara bertahap di berbagai provinsi dari Agustus hingga November 2025, dengan mengusung tema ‘Ibu Tenang, Anak Terlindungi, Indonesia Menang Lawan Kanker Leher Rahim.’ Kampanye ini diharapkan menjadi gerakan edukatif yang membangun percakapan, memperkuat peran komunitas, dan mendorong kolaborasi nyata dalam upaya eliminasi kanker leher rahim di Indonesia.

Arsip Blog