rubianto.id

Tampilkan postingan dengan label lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lifestyle. Tampilkan semua postingan

15 Februari 2026

Puasa: Antara Ibadah, Budaya Konsumsi, dan Kesehatan Publik

Ramadan selalu datang dengan wajah ganda. Di satu sisi ia tampil sebagai bulan spiritual, penuh doa, pengendalian diri, dan ajakan untuk hidup lebih sederhana. Di sisi lain, ia justru sering menjelma menjadi festival konsumsi. Iklan makanan membanjiri televisi, pusat perbelanjaan memamerkan diskon besar-besaran, dan pasar takjil tumbuh subur di hampir setiap sudut kota. Puasa, yang semestinya melatih kesederhanaan, malah menjadi pembuka musim belanja dan pesta kuliner.

Fenomena ini menarik jika dibaca dari kacamata kesehatan publik. Bayangkan, selama satu bulan penuh, jutaan orang di Indonesia menjalani pola makan yang berbeda dari biasanya: tidak makan dan minum selama belasan jam, lalu hanya makan dalam jendela waktu tertentu. Dalam dunia medis modern, pola semacam ini dikenal sebagai intermittent fasting dan dipromosikan sebagai metode menjaga kesehatan metabolik. Artinya, apa yang kita lakukan sebagai ibadah sebenarnya merupakan praktik kesehatan massal yang jarang disadari potensinya.

Secara fisiologis, puasa memberi kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat dari beban pencernaan. Organ-organ seperti lambung, pankreas, dan hati tidak terus-menerus bekerja. Energi yang biasanya dihabiskan untuk mencerna makanan dapat dialihkan untuk proses perbaikan sel, pengaturan hormon, dan stabilisasi metabolisme. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi pada penurunan risiko diabetes, obesitas, hingga penyakit jantung.

Namun potensi tersebut sering gagal terwujud karena pola berbuka yang keliru. Banyak orang memaknai berbuka sebagai ajang balas dendam setelah seharian menahan lapar. Minuman manis, gorengan, makanan tinggi lemak, dan porsi berlebihan menjadi menu standar. Akibatnya, lonjakan gula darah justru lebih ekstrem dibanding hari biasa. Tubuh yang semestinya dipulihkan malah kembali dipaksa bekerja keras dalam waktu singkat.

Lebih ironis lagi, budaya konsumsi ini kerap dibungkus dengan narasi religius. Seolah-olah berbuka dengan makanan melimpah adalah bentuk “syukur”, padahal esensi syukur dalam puasa justru terletak pada kesadaran batas, bukan kelimpahan. Dalam konteks kesehatan, perilaku ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga berdampak sistemik: meningkatnya keluhan maag, gangguan pencernaan, hingga naiknya berat badan selama Ramadan.

Puasa juga memiliki dimensi kesehatan mental yang sering luput dibicarakan. Ritme hidup yang berubah—bangun lebih awal, aktivitas malam meningkat, interaksi sosial di masjid dan rumah—menciptakan ruang refleksi yang jarang kita temui di bulan lain. Banyak orang mengaku merasa lebih tenang, lebih sabar, dan lebih mampu mengendalikan emosi selama berpuasa. Ini bukan sekadar efek sugesti religius, melainkan respons psikologis terhadap jeda dari pola hidup serba cepat.

Dalam masyarakat modern yang sarat tekanan, puasa sebenarnya menawarkan bentuk terapi kolektif. Ia memaksa kita memperlambat diri, mengurangi rangsangan konsumsi, dan menata ulang hubungan dengan tubuh. Ironisnya, justru pada bulan inilah media sosial dipenuhi konten kuliner, mukbang takjil, dan rekomendasi tempat buka puasa “terhits”. Alih-alih menjadi ruang kontemplasi, Ramadan sering berubah menjadi panggung pamer gaya hidup.

Di sinilah relevansi puasa sebagai isu kesehatan publik menjadi penting. Selama ini, promosi hidup sehat sering datang dalam bentuk kampanye formal: poster di puskesmas, seminar gizi, atau iklan layanan masyarakat. Padahal, puasa sudah menyediakan momentum sosial yang jauh lebih kuat: jutaan orang serempak mengubah pola makan, tidur, dan aktivitas. Tidak ada program kesehatan yang memiliki jangkauan seluas ini.

Sayangnya, negara dan institusi kesehatan belum sepenuhnya memanfaatkan momentum tersebut. Edukasi tentang sahur seimbang, berbuka secukupnya, dan pentingnya hidrasi sering kalah oleh iklan sirup dan makanan instan. Ramadan lebih diperlakukan sebagai pasar potensial daripada peluang intervensi kesehatan.

Padahal, jika dimaknai secara serius, puasa bisa menjadi titik balik gaya hidup. Sahur dengan karbohidrat kompleks, protein, dan serat; berbuka dengan air putih dan buah; mengurangi gorengan dan gula; serta tetap aktif bergerak—semua ini bukan sekadar anjuran medis, tetapi bagian dari filosofi puasa itu sendiri. Puasa mengajarkan bahwa tubuh bukan mesin yang bisa dipaksa terus-menerus, melainkan organisme yang membutuhkan jeda dan keseimbangan.

Pada akhirnya, puasa bukan hanya soal kuat menahan lapar, tetapi soal keberanian mengubah kebiasaan. Ia adalah kritik sunyi terhadap budaya konsumsi yang berlebihan. Dalam konteks kesehatan, puasa seharusnya dibaca sebagai praktik preventif: mencegah penyakit sebelum muncul, bukan sekadar mengobatinya setelah terlambat.

Jika puasa gagal mengubah cara kita makan, tidur, dan berpikir tentang tubuh, maka ia hanya menjadi ritual tahunan yang miskin makna. Namun jika dimaknai sebagai latihan hidup sehat, puasa bisa menjadi warisan budaya yang jauh lebih berharga daripada sekadar tradisi religius—ia menjadi fondasi kesehatan publik yang murah, alami, dan berkelanjutan.

31 Januari 2026

Kehebatan Ilmu Diam: Kekuatan yang Sering Diremehkan

Di tengah dunia yang semakin bising—dipenuhi notifikasi, opini, debat di media sosial, dan tuntutan untuk selalu berbicara—diam justru menjadi sesuatu yang langka. Padahal, dalam banyak tradisi filsafat, spiritualitas, hingga psikologi modern, diam bukanlah kelemahan, melainkan sebuah ilmu. Bahkan, bisa disebut sebagai salah satu bentuk kecerdasan tertinggi dalam hidup manusia.

Diam Bukan Kosong, Tapi Penuh Makna

Banyak orang mengira diam berarti tidak tahu, tidak peduli, atau tidak mampu merespons. Padahal, diam adalah proses batin yang aktif. Saat seseorang memilih diam, ia sedang mengamati, menimbang, dan mengendalikan diri.

Dalam konteks ini, diam bukan ketiadaan suara, melainkan kehadiran kesadaran. Seperti air yang tenang, justru di sanalah pantulan paling jernih bisa terlihat.

Ilmu Diam dalam Perspektif Psikologi

Dalam psikologi, kemampuan untuk menahan diri dari reaksi impulsif disebut sebagai self-regulation atau regulasi diri. Orang yang mampu diam sebelum bereaksi cenderung:

  • Lebih stabil secara emosi
  • Lebih bijak dalam mengambil keputusan
  • Lebih kecil kemungkinan menyesal
  • Lebih mampu mengelola konflik
Diam memberi ruang antara stimulus dan respons. Dan di ruang itulah kebebasan manusia berada.

Diam sebagai Bentuk Kecerdasan Emosional

Daniel Goleman menyebut kecerdasan emosional sebagai kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi. Salah satu tanda kecerdasan emosional tinggi adalah:

-- Tidak semua hal perlu ditanggapi.

Orang yang emosinya matang tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus diam. Karena tidak semua kebenaran harus diumumkan, dan tidak semua kesalahan harus dibalas.

Ilmu Diam dalam Tradisi Spiritual

Dalam banyak tradisi:

  • Islam mengenal konsep samt (menjaga lisan)
  • Jawa mengenal falsafah meneng, menep, eling
  • Buddha menekankan noble silence
  • Para sufi mengatakan: “Diam adalah bahasa Tuhan”
Semua sepakat pada satu hal: diam adalah pintu menuju kebijaksanaan batin.

Bahkan ada ungkapan klasik:

-- “Jika perkataanmu lebih baik dari diam, maka berbicaralah. Jika tidak, maka diam lebih mulia.”

Diam di Era Media Sosial

Di zaman sekarang, semua orang berlomba untuk:

  • Berkomentar
  • Mengoreksi
  • Menilai
  • Menghakimi
Ironisnya, yang paling kuat justru sering adalah mereka yang tidak ikut ribut.

Ilmu diam di era digital berarti:

  • Tidak terpancing provokasi
  • Tidak membalas ujaran kebencian
  • Tidak perlu menjelaskan diri pada semua orang
  • Tidak menjadikan hidup sebagai panggung pembuktian
Diam menjadi bentuk perlawanan paling elegan terhadap kebisingan dunia.

Diam Bukan Pasrah, Tapi Strategi

Penting dicatat: diam bukan berarti takut, lemah, atau menyerah. Diam adalah strategi sadar.

Seperti pepatah:

-- Singa tidak perlu mengaum setiap saat untuk menunjukkan dirinya singa.

Orang yang kuat tidak selalu paling vokal, tapi paling tenang menghadapi gejolak.

Kehebatan Sejati Ilmu Diam

Kehebatan ilmu diam terletak pada kemampuannya untuk:

  • Menjaga martabat diri
  • Menghindari konflik yang tidak perlu
  • Menjernihkan pikiran
  • Menguatkan intuisi
  • Melatih kedewasaan emosional
Diam mengajarkan kita bahwa tidak semua perang harus dimenangkan dengan kata-kata. Kadang, kemenangan terbesar adalah tetap utuh sebagai diri sendiri, tanpa perlu menjelaskan apa pun kepada dunia.

Diam sebagai Bentuk Kebijaksanaan Modern

Di dunia yang memuja kecepatan, reaksi, dan sensasi, diam justru menjadi bentuk revolusi sunyi. Ia melatih kita untuk tidak reaktif, tidak tergesa, dan tidak larut dalam drama kolektif.

Ilmu diam bukan tentang membungkam diri, melainkan tentang menghidupkan kesadaran.

Karena pada akhirnya, orang yang paling bijak bukan yang paling banyak bicara, melainkan yang tahu kapan harus diam, dan mengapa ia diam.

9 Januari 2026

Nerimo Ing Pandum dan Kesehatan Mental: Belajar Menerima untuk Hidup Lebih Tenang

Kesehatan mental menjadi isu penting di era modern. Tekanan kerja, tuntutan sosial, serta paparan media sosial yang berlebihan membuat banyak orang hidup dalam kecemasan, stres, dan perasaan tidak pernah cukup. Dalam konteks ini, falsafah Jawa nerimo ing pandum menawarkan pendekatan sederhana namun mendalam untuk menjaga kesehatan mental.

Apa Itu Nerimo Ing Pandum dalam Perspektif Psikologis?

Nerimo ing pandum berarti menerima bagian hidup yang diberikan dengan ikhlas. Dari sudut pandang psikologi, sikap ini sejalan dengan konsep acceptance—kemampuan menerima realitas tanpa penolakan berlebihan.

Penerimaan bukan berarti menyerah, melainkan mengakui keadaan apa adanya agar energi mental tidak habis untuk melawan hal-hal yang berada di luar kendali. Individu yang mampu menerima kondisi hidupnya cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah dan ketahanan mental yang lebih baik.

Mengurangi Stres dan Kecemasan

Banyak gangguan kesehatan mental berakar dari keinginan mengendalikan segalanya. Ketika realitas tidak sesuai harapan, muncul frustrasi dan kecemasan. Nerimo ing pandum membantu seseorang memahami batas antara usaha dan hasil.

Dengan menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan, sistem saraf menjadi lebih tenang. Pikiran tidak terus-menerus berada dalam mode waspada, sehingga risiko stres kronis dan kelelahan mental dapat berkurang.

Melawan Budaya Membandingkan Diri

Media sosial mendorong budaya membandingkan diri yang tidak sehat. Melihat pencapaian orang lain sering memicu perasaan gagal, rendah diri, dan tidak berharga. Sikap nerimo mengajarkan bahwa setiap orang memiliki “pandum” dan garis hidup yang berbeda.

Dalam psikologi, kemampuan menerima diri sendiri (self-acceptance) terbukti berkaitan erat dengan kesejahteraan mental. Orang yang nerimo tidak menolak kenyataan dirinya, tetapi tetap berupaya berkembang tanpa kebencian pada diri sendiri.

Nerimo Bukan Berarti Pasif

Dalam konteks kesehatan mental, nerimo sering disalahartikan sebagai sikap pasrah yang dapat memperburuk keadaan. Padahal, nerimo yang sehat justru mencegah kelelahan emosional akibat ambisi berlebihan.

Prinsipnya sederhana:

  • Berusaha dengan sadar
  • Menerima hasil dengan lapang dada
  • Belajar dari pengalaman tanpa menyalahkan diri secara berlebihan
Pendekatan ini mirip dengan terapi modern seperti Acceptance and Commitment Therapy (ACT) yang menekankan penerimaan dan tindakan bernilai.

Dampak Positif bagi Kesehatan Mental

Menerapkan nerimo ing pandum secara konsisten dapat memberikan manfaat nyata, antara lain:

  • Menurunkan tingkat stres dan kecemasan
  • Meningkatkan rasa syukur dan kepuasan hidup
  • Mengurangi perfeksionisme berlebihan
  • Membantu pemulihan emosional setelah kegagalan
  • Meningkatkan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi
Praktik Nerimo dalam Kehidupan Sehari-hari

Sikap nerimo bisa dilatih melalui kebiasaan sederhana:
  • Refleksi harian – menerima apa yang sudah terjadi tanpa menyalahkan diri
  • Membatasi perbandingan sosial – khususnya di media sosial
  • Fokus pada proses, bukan hasil – menilai diri dari usaha, bukan hanya pencapaian
  • Melatih rasa syukur – menyadari hal kecil yang sudah dimiliki
  • Berani meminta bantuannerimo juga berarti menerima bahwa manusia bisa membutuhkan orang lain
Bukan Hanya Warisan Budaya

Nerimo ing pandum bukan hanya warisan budaya, tetapi juga strategi kesehatan mental yang relevan di era modern. Ia mengajarkan keseimbangan antara menerima dan berusaha, antara realitas dan harapan.

Dalam dunia yang menuntut kesempurnaan, nerimo adalah cara untuk tetap waras, utuh, dan manusiawi.

14 Desember 2025

Manfaat Tidak Memiliki Media Sosial: Hidup Lebih Tenang di Era Serba Online

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bangun tidur membuka Instagram, istirahat kerja melihat TikTok, sebelum tidur mengecek WhatsApp. Namun, di tengah arus tersebut, muncul fenomena menarik: semakin banyak orang memilih tidak memiliki media sosial—atau setidaknya berhenti menggunakannya secara aktif.

Keputusan ini sering dianggap aneh atau ketinggalan zaman. Padahal, tidak memiliki media sosial justru membawa banyak manfaat bagi kesehatan mental, produktivitas, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Pikiran Lebih Tenang dan Minim Stres

Media sosial kerap menjadi sumber stres tanpa disadari. Berita negatif, konflik di kolom komentar, perbandingan hidup dengan orang lain, hingga tekanan untuk selalu terlihat “bahagia” dapat membebani pikiran.

Tanpa media sosial:

  • Tidak ada dorongan membandingkan diri dengan orang lain
  • Tidak terpapar drama dan konflik daring
  • Pikiran lebih fokus pada kehidupan nyata

Hasilnya, hidup terasa lebih tenang dan emosional lebih stabil.

Lebih Fokus dan Produktif

Notifikasi yang terus berbunyi memecah konsentrasi. Banyak orang berniat membuka media sosial “sebentar”, namun akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam tanpa sadar.

Tidak memiliki media sosial membantu:

  • Mengurangi distraksi
  • Meningkatkan fokus kerja dan belajar
  • Menghemat waktu untuk hal yang lebih bermanfaat
Waktu yang biasanya habis untuk scrolling bisa dialihkan untuk membaca, berolahraga, atau mengembangkan keterampilan.

Hubungan Sosial Lebih Berkualitas

Ironisnya, meski media sosial menghubungkan banyak orang, hubungan yang terbangun sering kali dangkal. Interaksi hanya sebatas “like”, komentar singkat, atau emoji.

Tanpa media sosial:

  • Interaksi lebih banyak terjadi secara langsung
  • Percakapan lebih bermakna dan mendalam
  • Hubungan emosional terasa lebih nyata
Kualitas pertemanan meningkat meski jumlahnya mungkin lebih sedikit.

Privasi Lebih Terjaga

Media sosial mendorong pengguna untuk membagikan kehidupan pribadi: lokasi, aktivitas harian, hingga perasaan terdalam. Tanpa disadari, ini membuka celah pelanggaran privasi.

Tidak memiliki media sosial berarti:

  • Data pribadi lebih aman
  • Tidak merasa wajib membagikan kehidupan pribadi
  • Lebih bebas menjalani hidup tanpa pengawasan publik
Hidup terasa lebih autentik karena tidak harus “dipamerkan”.

Rasa Percaya Diri Lebih Sehat

Media sosial sering menciptakan standar hidup yang tidak realistis. Foto sempurna, tubuh ideal, dan kesuksesan instan membuat banyak orang merasa “kurang”.

Tanpa paparan tersebut:

  • Rasa syukur meningkat
  • Harga diri tidak bergantung pada validasi online
  • Kepercayaan diri tumbuh secara alami
Seseorang lebih fokus pada pertumbuhan diri, bukan penilaian orang lain.

Kesehatan Mental Lebih Terjaga

Berbagai penelitian menunjukkan hubungan antara penggunaan media sosial berlebihan dengan kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Menghindarinya dapat menjadi langkah preventif yang sederhana namun efektif.

Manfaat yang dirasakan:

  • Tidur lebih nyenyak
  • Emosi lebih stabil
  • Risiko kecanduan digital berkurang
Tidak memiliki media sosial bukan berarti anti-teknologi atau menutup diri dari dunia. Ini adalah pilihan sadar untuk mengelola waktu, emosi, dan perhatian dengan lebih bijak.

Di tengah dunia yang bising dan serba cepat, menjauh dari media sosial bisa menjadi cara sederhana untuk menemukan kembali ketenangan, fokus, dan makna hidup yang lebih dalam.

Kadang, bukan dengan menambah koneksi digital hidup menjadi lebih baik—melainkan dengan menguranginya.

7 Desember 2025

Stres Manusia Modern Setara dengan Stres Menghadapi Seekor Singa: Tinjauan Neurobiologis dan Psikososial

Stres merupakan reaksi adaptif tubuh untuk menghadapi ancaman internal maupun eksternal. Pada masa prasejarah, ancaman utama berupa predator, kondisi alam ekstrem, dan kompetisi fisik. Ancaman tersebut memicu respons stres akut yang memfasilitasi kelangsungan hidup (Sapolsky, 2004). Namun, pada era modern, bentuk stres bergeser ke arah tuntutan sosial, pekerjaan, finansial, dan digital (McEwen, 2007). Meskipun berbeda secara bentuk, organisme manusia tetap mengaktifkan mekanisme neurobiologis yang sama. Hal ini menimbulkan fenomena di mana stres modern dapat menghasilkan intensitas fisiologis yang setara dengan stres menghadapi seekor singa, tetapi berlangsung secara lebih kronis.

Mekanisme Neurobiologis Stres

Respons stres dikendalikan oleh sumbu HPA (Hypothalamic–Pituitary–Adrenal) dan sistem saraf simpatis. Ketika individu menghadapi ancaman, hipotalamus memicu pelepasan CRH, diikuti ACTH dari pituitari, dan akhirnya kortisol dari kelenjar adrenal (Kemeny, 2003). Aktivasi simultan sistem simpatis menghasilkan peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan kesiapan motorik.

Pada konteks evolusioner, respons ini berfungsi untuk menghadapi ancaman predator seperti singa. Respons yang cepat dan intens bersifat adaptif terhadap ancaman fisik akut.

Stres Modern sebagai Pemicu Respons Evolusioner Lama

Pada era digital, ancaman tidak lagi berupa bahaya fisik, tetapi berupa tekanan pekerjaan, konflik interpersonal, tuntutan sosial, dan informasi berlebih. Namun otak limbik—khususnya amigdala—tidak membedakan ancaman fisik dan psikososial (LeDoux, 2012). Akibatnya, notifikasi dari ponsel, kritik atasan, atau tekanan ekonomi dapat memicu respons fisiologis serupa dengan menghadapi predator.

Perbedaan Stres Akut dan Stres Kronis

Stres menghadapi predator umumnya bersifat akut, intens, tetapi singkat. Setelah ancaman berlalu, tubuh kembali stabil. Sebaliknya, stres modern bersifat kronis karena bersumber dari masalah yang berlangsung lama: pekerjaan, ekonomi, pendidikan, dan media sosial (Lupien et al., 2009). Aktivasi sumbu HPA yang terus-menerus memicu allostatic load, yaitu kelelahan biologis akibat stres berkepanjangan (McEwen & Wingfield, 2010).

Dampak Kesehatan Stres Modern

Stres kronis berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan:

Dampak Fisiologis

  • hipertensi dan penyakit kardiovaskular
  • penurunan imunitas
  • gangguan tidur
  • masalah gastrointestinal
  • inflamasi kronis

Dampak Psikologis

  • kecemasan dan depresi
  • burnout
  • gangguan konsentrasi
  • kelelahan kognitif

Kondisi ini lebih berbahaya daripada stres akut karena bersifat terus-menerus tanpa resolusi yang jelas.

Implikasi bagi Kehidupan Modern

Relevansi temuan ini menunjukkan perlunya strategi pengelolaan stres yang terstruktur, meliputi:

  • regulasi pernapasan dan teknik relaksasi
  • aktivitas fisik teratur
  • manajemen waktu dan informasi
  • dukungan sosial
  • intervensi psikologis berbasis kognitif-perilaku

Pendekatan ini membantu menurunkan aktivasi sumbu HPA sehingga mengurangi beban fisiologis jangka panjang.

Respons stres manusia modern memiliki dasar biologis yang sama dengan respons ketika menghadapi ancaman ekstrem pada manusia purba, seperti serangan predator. Namun, karakteristik stres modern yang bersifat kronis menjadikannya lebih berbahaya bagi kesehatan. Kesetaraan respons fisiologis tersebut menunjukkan bahwa tubuh manusia belum sepenuhnya beradaptasi dengan perubahan lingkungan sosial modern yang kompleks. Dengan memahami mekanisme ini, diperlukan strategi pengelolaan stres yang komprehensif untuk menjaga kesehatan fisik dan mental di era modern.

Referensi:

Kemeny, M. E. (2003). The psychobiology of stress. Current Directions in Psychological Science, 12(4), 124–129.

LeDoux, J. (2012). The emotional brain: The mysterious underpinnings of emotional life. Simon & Schuster.

Lupien, S. J., McEwen, B. S., Gunnar, M. R., & Heim, C. (2009). Effects of stress throughout the lifespan on the brain, behaviour and cognition. Nature Reviews Neuroscience, 10(6), 434–445.

McEwen, B. S. (2007). Physiology and neurobiology of stress and adaptation: Central role of the brain. Physiological Reviews, 87(3), 873–904.

McEwen, B. S., & Wingfield, J. C. (2010). What is in a name? Integrating homeostasis, allostasis and stress. Hormones and Behavior, 57(2), 105–111.

Sapolsky, R. M. (2004). Why zebras don’t get ulcers: The acclaimed guide to stress, stress-related diseases, and coping. Holt Paperbacks.

30 November 2024

Bye - Bye Kebiasaan TOXIC yang Bikin SICK

Mulai tinggalin kebiasaan toxic kamu biar hidup lebih sehat dan bahagia! 💪✨

Kebiasaan kebanyakan scroll medsos, makan junk food, atau males gerak bisa pelan-pelan dikurangin yaaaa.


Gak cuma buat kesehatan fisik, tapi mental juga jadi lebih tenang dan mood makin stabil.

Step by step, yang penting konsisten! 💯

12 Oktober 2024

Narcissistic Personality Disorder, Apa Itu?

Apabila kita membutuhkan dan mencari terlalu banyak perhatian dan ingin orang lain mengagumi diri kita di sosial media, hati-hati,,, bisa jadi kita menderita Narcissistic Personality Disorder (NPD). Apa itu Narcissistic Personality Disorder (NPD)?

Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya pikiran, sikap, dan perilaku tidak serasi dalam hal kesadaran, pengendalian impuls, persepsi, cara berpikir, dan hubungan dengan orang lain dalam jangka waktu yang lama, menetap dan menyebabkan penderitaan, serta mengganggu pekerjaan dan aktivitas sosial sehari hari.

Terdapat sejumlah tanda atau gejala gangguan NPD yang bisa diketahui. Salah satunya pengidap biasanya merasa dirinya sangat penting. Melebihkan bakat/prestasinya, mengharap dikenal sebagai orang yang superior. Orang dengan gangguan ini juga merasa dirinya sebagai orang yang spesial dan unik yang hanya dapat dimengerti oleh atau perlu berhubungan dengan orang lain, institusi yang spesial, hingga berkedudukan lebih tinggi. Pengidap juga membutuhkan pemujaan berlebihan.

Merasa dirinya 'mempunyai hak istimewa', misalnya menuntut agar ia mendapat perlakuan khusus, atau orang lain harus menurut kehendaknya, dalam hubungan interpersonal bersifat eksploitatif, menggunakan orang lain untuk kepentingan dirinya. 

Kurang atau tidak mampu berempati, tidak mau mengenal atau beridentifikasi dengan perasaan atau kebutuhan orang lain. Kemudian sering iri hati pada orang lain, atau merasa bahwa orang lain iri hati terhadapnya. Selain itu, orang dengan gangguan kesehatan mental ini juga bersikap sombong.

Jika tanda dan gejala ini ada pada diri kita, hati-hati,,,akan mengganggu fungsi kehidupan sehari hari dan juga dapat merusak relasi kita dengan orang lain. Apabila sudah demikian maka diagnosis NPD dapat ditegakkan.

28 September 2024

Doom Spending yang Bikin Miskin Milenial dan Gen Z

Doom spending saat ini sedang ramai diperbincangkan di media sosial, yang semakin populer di kalangan generasi milenial dan Gen Z.

Doom spending dianggap sebagai cara baru untuk meredakan stres akibat berbagai masalah, seperti ekonomi, pendidikan, dan politik.


Dengan memanjakan diri melalui belanja, banyak orang berharap dapat mengatasi tekanan dan ketidakpastian yang mereka hadapi.

Doom spending adalah perilaku saat seseorang merasa cemas atau pesimis tentang masa depan dan mengeluarkan uang secara berlebihan sebagai respons terhadap tekanan hidup.

Aktivitas ini sering dianggap sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dan meredakan stres. Berbelanja dapat memberikan kegembiraan sementara dan rasa lega, meskipun hanya bersifat sementara.

Selain stres, doom spending juga dipengaruhi oleh rasa takut ketinggalan (FOMO) yang sering muncul dari media sosial. Banyak orang mengikuti jejak teman atau influencer yang menghabiskan uang untuk tren terbaru, sehingga merasa lebih terhubung dan bebas dari kecemasan.

Namun, doom spending tidak baik jika dilakukan terus-menerus. Kebiasaan ini dapat berdampak negatif pada keuangan di masa depan.

Untuk mengatasi hal ini, Anda bisa menetapkan batasan pengeluaran, seperti hanya membeli satu barang setiap bulan atau memberi hadiah pada diri sendiri setelah mencapai sesuatu.

Selain itu, mencari cara lain untuk mengelola stres sangatlah penting. Aktivitas, seperti meditasi, yoga, dan olahraga dapat membantu meredakan kecemasan tanpa perlu bergantung pada belanja.

23 Juni 2024

Cara Menjauh dari Teman yang Buruk Tanpa Menyakiti Hatinya

Walau berat, kita harus berani mengambil keputusan untuk pergi dari teman-teman yang negatif. Kalau kita tidak menjauhi mereka hanya karena sungkan atau takut mereka akan terluka atau semakin membenci kita, nantinya malah itu akan membahayakan kesehatan mental kita sendiri. Mending menjauh sekarang dibanding lebih lama terkontaminasi dengan mereka. 

"Mundur Perlahan, Nanti Juga Terbiasa"

Jadikan Kesibukan Kita Sebagai Tameng

Untuk awal, ada baiknya kita menghindar karena kesibukan kita. Semakin kita punya banyak hal untuk dikerjakan, semakin kita punya alasan untuk tidak menemui mereka. Buat mereka sadar dengan sendirinya bahwa kita sengaja menjauhinya adalah salah satu cara membuat mereka mundur perlahan.

Berani Menolaknya Sama Sekali Bukanlah Suatu Kesalahan

Jangan sungkan untuk menolak mereka. Katakan dengan tegas kita tidak mau menemani mereka atau ikut kemana mereka pergi. Ketika kita menolaknya, suatu saat dia pasti akan berpikir ulang untuk mengajak kita lagi. Lebih baik menolak sekarang daripada terus menjalin hubungan palsu yang tidak kita kehendaki.

Penuhi Hari Kita dengan Teman yang Positif

Cara terbaik pergi dari teman yang buruk hanyalah mencari teman yang baik. Pasti masih ada lingkungan sehat yang bisa jadi bagian kita. Jangan tunda atau buang waktu dengan teman yang membuat kualitas diri kita menurun. Lebih baik luangkan waktu untuk hal bermanfaat lainnya.

Jauhkan Diri dari Segala Media Sosial Mereka

Tidak menutup kemungkinan kita akan merindukan sosok seorang teman dari mereka. Makanya penting untuk tidak membuka media sosialnya sama sekali. Kalau sudah tahu mereka bukan teman yang baik, maka seharusnya hal apapun tentangnya tidak membuatmu tertarik lagi.

Mengurangi Intensitas Sebisa Mungkin

Pertemanan bisa terjalin akrab karena intensitas yang sering. Jadi, kalau kita memang mau menjauh maka sebisa mungkin jauhkan dari segala urusan mereka. Jangan terlibat dalam apapun kegiatannya dan juga sebaliknya. Mengurangi intensitas akan membuat kita dan mereka terbiasa tanpa satu sama lain.

Sebenarnya kita tidak membutuhkan teman negatif seperti mereka. Jangan pernah merasa sayang atau sungkan meninggalkan orang yang buruk. Percayalah tipe toxic seperti itu tidak membutuhkan kamu sebagai teman. Dia hanya membutuhkan dirinya sendiri.

11 Agustus 2023

Work Life Balance dan Cara Menerapkannya

Work life balance bukanlah tentang pembagian waktu yang adil antara dunia pekerjaan dan kehidupan pribadi, melainkan apakah Anda merasa puas di kedua kehidupan tersebut. Jika Anda merasa stres atau kewalahan di tempat kerja dan di rumah, bisa jadi ini merupakan tanda work life balance yang buruk.

Work life balance merupakan istilah untuk menggambarkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Banyak pekerja yang tidak menyadarinya karena tekanan dari atasan dan tuntutan hidup. Padahal, work life balance yang buruk dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental.

Standar work life balance yang baik adalah Anda merasa bahagia dan produktif di tempat kerja sambil tetap menikmati waktu untuk hal-hal yang Anda sukai di luar bekerja, misalnya menjalani hobi atau menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga.

Selain itu, Anda juga tidak mengkhawatirkan pekerjaan saat berada di rumah, memiliki waktu tidur yang cukup, dan menjalani pola hidup sehat.

Pentingnya Work Life Balance

Terlalu banyak tuntutan pekerjaan hampir setiap hari bisa membuat para pekerja sulit memiliki work life balance dan terjebak dalam gaya hidup hustle culture. Tanpa disadari, kebiasaan ini berdampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang, baik fisik maupun mental.

Ketika work life balance buruk, yang terjadi justru tingkat stres meningkat, produktivitas dan motivasi menurun, konsentrasi atau kreativitas berkurang, merasa tertekan terus-menerus dan mudah marah, bahkan hubungan pribadi dan profesional juga bisa terganggu.

Seiring berjalannya waktu, hal ini akan melemahkan imunitas tubuh dan membuat tubuh rentan sakit, khususnya flu, sakit perut, sakit kepala, atau sakit punggung. Bahkan, penelitian terbaru menyatakan bahwa stres berlarut-larut karena pekerjaan bisa meningkatkan risiko terkena penyakit jantung.

Oleh karena itu, work life balance sangatlah penting diwujudkan bagi para pekerja. Menurut berbagai riset, pekerja yang memiliki work life balance menunjukkan performa kerja yang baik, jarang ambil cuti sakit, jarang mengalami burnout, dan lebih efisien dalam bekerja sehingga mampu menyelesaikan target yang ditentukan.

Cara Menerapkan Work Life Balance

Tetapkan prioritas pekerjaan

Kurangnya kontrol dalam pekerjaan bisa menjadi awal work life balance yang buruk. Oleh karena itu, kunci pertama adalah menetapkan daftar prioritas tugas atau kegiatan yang perlu dilakukan. Catatlah dan dahulukan pekerjaan yang penting.

Bila pekerjaan yang Anda terima dirasa terlalu banyak dan melampaui batas kemampuan Anda, tidak apa-apa bersikap realistis dengan minta bantuan rekan kerja lain atau minta tambahan waktu untuk menyelesaikannya.

Jangan menunda-nunda pekerjaan

Saat Anda terbiasa menunda-nunda, tugas akan makin terasa menumpuk di pikiran hingga begitu sulit dikerjakan. Solusinya, mulailah dengan tugas yang mudah dan sederhana terlebih dahulu. Selesaikanlah satu per satu sebelum lanjut ke tugas selanjutnya. Agar tidak bosan, berilah jeda waktu istirahat sekitar 5 menit saat bekerja.

Ingatlah, menunda-nunda pekerjaan tidak membuat pekerjaan tersebut selesai dengan sendirinya. Makin cepat kerjaan selesai, makin banyak waktu pula yang bisa dihabiskan untuk istirahat atau berkumpul bersama teman dan keluarga.

Ketahui kapan harus berhenti

Banyak pekerja yang memberikan seluruh energinya pada pekerjaan hingga tidak kenal waktu. Ini dapat terjadi karena tuntutan pekerjaan yang begitu berat atau adanya tekanan untuk tetap bekerja setiap waktu, bahkan di akhir pekan atau hari libur. Akibatnya, energi pun habis dan tidak ada waktu untuk menjalani kehidupan pribadi.

Jika Anda sudah berada di tahap ini, cobalah berhenti, matikan notifikasi email kantor, dan luangkan waktu untuk merenung, “Apakah cara Anda menjalani hidup saat ini sudah menjadi yang terbaik?”.

Jangan khawatir, pekerjaan Anda tidak harus selalu diselesaikan di satu waktu yang sama. Masih ada hari esok untuk melanjutkannya.

Jaga komunikasi dengan orang terdekat

Jangan lupa untuk tetap memprioritaskan waktu bersama orang-orang terdekat, seperti keluarga, teman, atau pasangan. Tanpa Anda sadari atau tidak, ini bisa menjadi salah satu cara yang efektif untuk rehat sebentar dari pekerjaan agar tidak stres dan burnout.

Jangan ragu mengambil cuti

Sebagian pekerja mungkin sungkan atau terlalu takut untuk mengajukan cuti ke atasan, padahal cuti merupakan hak karyawan. Jadi, jika Anda merasa butuh istirahat dari pekerjaan, ambillah cuti 1 atau 2 hari untuk melakukan aktivitas apa pun yang Anda sukai, misalnya pergi berlibur ke pantai.

Ingat, jangan lupa matikan notifikasi kerjaan di ponsel dan beri tahu rekan kerja bahwa Anda sedang cuti. Dengan begitu, Anda bisa tetap fokus memulihkan diri.

Utamakan kesehatan diri sendiri

Tidak ada hal yang lebih penting dari kesehatan mental dan fisik diri sendiri. Jangan sampai Anda mengorbankan kesehatan hanya karena pekerjaan yang sebenarnya bisa ditunda. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Jadi, jalanilah hidup yang sehat dengan berolahraga secara rutin, tidur yang cukup pada waktu yang teratur setiap hari, konsumi makanan sehat, dan hindari konsumsi minuman beralkohol.


Mewujudkan work life balance bisa menjadi tantangan yang cukup sulit bagi sebagian besar pekerja. Alasannya karena banyak hal, misalnya karena banyak tanggung jawab yang harus dipikul, atasan yang terlalu banyak menuntut, atau karena masalah kesehatan.

Meski kelihatannya tidak mudah, bukan berarti work life balance diabaikan dan dibiarkan begitu saja. Setidaknya, cobalah berusaha melakukan segala cara agar mendapatkan work life balance.

Bila Anda merasa tetap kesulitan untuk mendapatkan work life balance hingga mengalami tanda-tanda depresi, janganlah ragu mencari bantuan ke psikolog agar mendapatkan saran yang tepat.

28 Juli 2023

Arti Slow Living atau Hidup Lambat

Slow living adalah pola pikir di mana Anda menyusun gaya hidup yang lebih bermakna dan sadar yang sejalan dengan apa yang paling Anda hargai dalam hidup.

Itu berarti melakukan segalanya dengan kecepatan yang tepat. Alih-alih berusaha melakukan sesuatu dengan lebih cepat, gerakan lambat berfokus pada melakukan sesuatu dengan lebih baik. Seringkali, itu berarti memperlambat, melakukan lebih sedikit, dan memprioritaskan menghabiskan jumlah waktu yang tepat untuk hal-hal yang paling penting bagi Anda.

Dengan memperlambat dan dengan sengaja menempatkan nilai-nilai Anda yang sebenarnya di jantung gaya hidup Anda, pola pikir hidup lambat mendorong Anda untuk hidup dalam kesadaran diri dan membuat keputusan yang sadar dan bertujuan untuk kepentingan kesejahteraan Anda dan planet ini.

Kehidupan lambat menyangkal bahwa sibuk sama dengan sukses atau penting. Itu berarti hadir dan pada saat ini, merayakan kualitas daripada kuantitas, hidup dengan niat, sadar dan mempertimbangkan. Mengadopsi pola pikir yang lebih lambat berarti mematikan autopilot dan memberi ruang untuk refleksi dan kesadaran diri.

"Hidup lambat berarti hidup lebih baik, bukan lebih cepat"

Sejarah Gerakan Lambat

Slow living adalah bagian dari gerakan lambat yang lebih luas yang dimulai pada 1980-an di Italia. Menghadapi pembukaan McDonald's di jantung kota Roma, Carlo Petrini dan sekelompok aktivis membentuk Slow Food, sebuah gerakan yang mempertahankan tradisi makanan daerah. Gerakan slow food kini memiliki pendukung di lebih dari 150 negara dan terus melindungi tradisi gastronomi, mempromosikan upah yang adil bagi produsen, mendorong kenikmatan makanan berkualitas baik, dan terlibat dalam aktivitas seputar keberlanjutan.

Carl Honoré, salah satu penulis dan pembicara paling terkenal tentang gerakan lambat, membantu membawa konsep hidup lambat ke arus utama pada tahun 2004 dengan menerbitkan bukunya In Praise of Slowness. Honoré mengeksplorasi bagaimana Slow Food memicu gerakan hidup lambat yang lebih luas dengan 'lambat' sekarang diterapkan ke area kehidupan lain yang telah mengalami percepatan besar, termasuk pekerjaan, mengasuh anak, dan rekreasi.

Sejak penerbitan buku, kecepatan hidup kita terus meningkat, begitu pula kesadaran akan gerakan hidup yang lambat. Saat ini, perjalanan lambat, mode lambat, kebugaran lambat, berkebun lambat, interior lambat, desain lambat, pemikiran lambat, berita lambat, dan kerja lambat adalah contoh cabang lebih lanjut dari gerakan hidup lambat. Semakin banyak orang mengakui bahwa lebih cepat tidak selalu lebih baik.

Lambat Hidup dalam Pandemi dan seterusnya

Dengan lebih banyak orang yang terpaksa memperlambat dan menyederhanakan gaya hidup mereka, minat terhadap gerakan lambat meningkat selama pandemi. Faktanya, Google melaporkan peningkatan 4x lipat dalam jumlah video YouTube dengan judul 'hidup lambat' pada tahun 2020 vs 2019. Sementara beberapa klip ini menggambarkan keberadaan pedesaan yang indah yang jauh dari kenyataan sebagian besar, peningkatan konten video tersebut menunjukkan keinginan untuk terhubung kembali dengan hobi, alam, dan diri kita sendiri yang bermakna. Dengan lebih banyak waktu untuk merenung dan peralihan tiba-tiba ke kerja jarak jauh yang belum pernah terjadi sebelumnya, banyak yang menilai kembali apa yang benar-benar penting bagi mereka.

"hidup lebih baik, bukan lebih cepat"

Kesalahpahaman tentang Hidup Lambat

Gerakan hidup lambat menghilangkan konotasi negatif dari kata 'pelan' yang mungkin disamakan beberapa orang dengan lamban, malas atau tidak produktif.

Pembicara hidup lambat Carl Honoré sering menyebutkan perbedaan antara 'lambat baik' dan 'lambat buruk'. Perbedaannya adalah bahwa 'lamban yang baik' adalah tentang memperlambat secara sadar untuk melakukan hal-hal dengan kecepatan yang tepat untuk mencapai hasil yang lebih baik, sedangkan 'lambat yang buruk' mungkin sesuatu di luar kendali kita, seperti antrian panjang atau kemacetan lalu lintas. Sebaliknya, ada juga 'cepat baik' dan 'cepat buruk'. Kecepatan bisa mengasyikkan dan menggembirakan dalam situasi yang tepat, tetapi terburu-buru dalam hidup, hanya melihat sekilas permukaan, justru sebaliknya.

Oleh karena itu, salah satu kesalahpahaman terbesar dari gerakan hidup lambat adalah bahwa hal itu menyarankan agar kita melakukan segala sesuatu dengan lambat, bergerak dengan kecepatan siput. Namun, pada kenyataannya, ini hanya tentang memperlambat untuk mematikan keadaan autopilot yang sering kita alami. Ini memberi kita ruang kepala untuk memprioritaskan apa yang penting dan menetapkan jumlah waktu yang tepat untuk setiap tugas atau aktivitas.

Hidup lambat bukan hanya untuk mereka yang tinggal di pedesaan. Slow living adalah pola pikir semua orang, entah rumah Anda di ibu kota yang ramai atau dusun.

Hidup lambat tidak bertentangan dengan menjadi sukses atau produktif. Sebaliknya, ini tentang menjalankan ide kesuksesan Anda sendiri dan memprioritaskan apa yang paling penting bagi Anda.

Hidup lambat bukan berarti bebas dari teknologi. Itu berarti memastikan teknologi melayani kita, bukan mengganggu kita, dan mengakui perlunya waktu henti layar di era digital.

Dan akhirnya, hidup lambat bukanlah perbaikan cepat, ini adalah perubahan pola pikir yang membutuhkan waktu dan akan terus berubah saat hal yang paling penting bagi Anda berubah. Seperti yang ditulis Brooke McAlary dalam bukunya SLOW: “Ini bukan perlombaan dengan garis start dan finish. Ini lambat, tidak sempurna, disengaja dan berkembang."

kesehatan kuliner lifestyle

Arsip Blog