rubianto.id

8 Februari 2026

Gas Tertawa: Ketika Euforia Instan Mengancam Kesehatan Publik

Di balik namanya yang terdengar jenaka, gas tertawa atau nitrous oxide (N₂O) justru sedang menjadi ancaman serius bagi kesehatan publik. Zat yang selama ini dikenal sebagai anestesi ringan dalam dunia medis itu kini berubah fungsi: dari alat bantu pengobatan menjadi sumber euforia instan yang disalahgunakan, terutama di kalangan anak muda.

Fenomena ini bukan lagi isu pinggiran. Dalam beberapa bulan terakhir, publik dikejutkan oleh sejumlah kasus keracunan hingga kematian yang diduga berkaitan dengan penggunaan gas tertawa secara rekreasional. Aparat kepolisian menemukan tabung kecil berwarna mencolok—sering disebut whip pink—di lokasi kejadian. Dari sinilah diskusi nasional kembali mengemuka: apakah negara terlambat menyadari bahaya yang sebenarnya sudah lama mengintai?

Secara medis, nitrous oxide memang bukan barang baru. Gas ini lazim digunakan dokter gigi untuk mengurangi nyeri dan kecemasan pasien. Dalam dosis tepat dan pengawasan tenaga kesehatan, N₂O relatif aman. Namun persoalan muncul ketika gas ini keluar dari ruang klinik dan masuk ke ruang hiburan malam, pesta, bahkan kamar kos mahasiswa.

Ironisnya, penyalahgunaan ini terjadi justru karena gas tertawa mudah didapat dan legal. Siapa pun bisa membelinya secara daring dengan alasan “keperluan kuliner” atau “alat pembuat krim”. Negara seakan kecolongan oleh celah regulasi yang terlalu longgar.

Padahal dampak kesehatannya tidak bisa dianggap sepele. Nitrous oxide dapat menyebabkan hipoksia, kondisi kekurangan oksigen yang berujung pingsan hingga kematian. Dalam jangka panjang, zat ini merusak metabolisme vitamin B12 yang berperan penting dalam sistem saraf. Banyak kasus di luar negeri menunjukkan pengguna mengalami mati rasa, gangguan berjalan, hingga kelumpuhan parsial.

Yang lebih mengkhawatirkan, generasi muda kerap memandang gas tertawa sebagai “narkoba ringan” yang tidak berbahaya. Efeknya singkat, tidak disuntik, tidak ditelan, dan tidak berbau tajam. Semua itu menciptakan ilusi aman—padahal justru itulah jebakan psikologisnya.

Respons pemerintah memang mulai terlihat. Kementerian Kesehatan, BPOM, dan BNN telah menyuarakan keprihatinan serta wacana penguatan regulasi. Namun pertanyaan besarnya: apakah langkah ini cukup cepat sebelum korban terus bertambah?

Kita pernah belajar dari rokok elektrik, minuman berpemanis, hingga obat batuk yang disalahgunakan. Polanya selalu sama: tren muncul, korban jatuh, barulah negara bereaksi. Gas tertawa tampaknya sedang mengulang siklus itu.

Masalah ini sejatinya bukan sekadar soal hukum, tetapi soal budaya instan. Anak muda hidup dalam tekanan sosial yang tinggi: tuntutan tampil bahagia, sukses, dan produktif. Gas tertawa menawarkan jalan pintas—bahagia dalam hitungan menit, tanpa perlu menghadapi realitas.

Namun kebahagiaan semu selalu menagih harga mahal. Tubuh yang rusak, saraf yang terganggu, dan masa depan yang terancam. Tertawa seharusnya lahir dari pengalaman hidup yang bermakna, bukan dari tabung gas bertekanan.

Di titik ini, gas tertawa menjadi simbol zaman: ketika manusia lebih memilih euforia cepat daripada kesehatan jangka panjang. Negara wajib hadir melalui regulasi, tetapi masyarakat juga harus jujur pada diri sendiri—bahwa tidak semua yang legal itu layak dicoba, dan tidak semua yang membuat tertawa benar-benar membawa bahagia.

Comments
0 Comments

0 comments:

Posting Komentar

Arsip Blog