rubianto.id

8 Februari 2026

Jajanan Es Teh dan Kopi : Murah di Tangan, Mahal di Tubuh

Di tengah terik siang, segelas es teh manis atau kopi dari pedagang pinggir jalan maupun ruko permanen terasa seperti penyelamat. Harganya ramah di kantong, mudah dijangkau, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian masyarakat urban maupun pedesaan. Namun, di balik kesegarannya, ada persoalan kesehatan publik yang kerap luput dari perhatian.

Masalah utama bukan terletak pada teh atau kopinya, melainkan pada sistem di balik penyajiannya: air, es batu, kebersihan alat, serta bahan tambahan yang digunakan. Banyak pedagang terjebak dalam keterbatasan fasilitas. Air tidak selalu direbus sempurna, es batu sering berasal dari pabrik rumahan tanpa pengawasan, dan peralatan dicuci di air yang sama berulang kali. Praktik ini membuka pintu lebar bagi kontaminasi mikroba berbahaya.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan individu, tetapi masalah struktural. Diare, tifus, hingga hepatitis A masih menjadi penyakit yang lazim di Indonesia, dan salah satu jalur penularannya adalah makanan serta minuman yang tidak higienis. Ironisnya, kita sering menyalahkan daya tahan tubuh, padahal sumber masalahnya ada di lingkungan konsumsi sehari-hari.

Selain risiko biologis, terdapat pula ancaman metabolik yang lebih senyap. Es teh manis dan kopi instan jajanan rata-rata mengandung gula berlebihan, krimer sintetis, serta perisa buatan. Konsumsi rutin tanpa disadari berkontribusi pada meningkatnya kasus obesitas dan diabetes tipe 2—dua masalah besar yang kini membebani sistem kesehatan nasional. Minuman yang awalnya bertujuan menghilangkan haus justru menjadi pemicu penyakit kronis.

Belum lagi persoalan kemasan. Air panas yang diseduh langsung ke gelas plastik tipis berpotensi melarutkan zat kimia berbahaya seperti BPA. Dalam jangka panjang, paparan zat ini dikaitkan dengan gangguan hormon dan risiko kanker. Ini bukan isu sensasional, melainkan fakta ilmiah yang sayangnya belum banyak dipahami oleh masyarakat maupun pelaku usaha kecil.

Tentu tidak adil jika seluruh pedagang disudutkan. Banyak di antara mereka berusaha menjaga kebersihan sebisanya. Namun, persoalan utamanya adalah ketiadaan standar yang jelas dan mudah diakses. Konsumen tidak memiliki alat untuk membedakan mana pedagang yang higienis dan mana yang tidak. Semua hanya mengandalkan tampilan visual dan kebiasaan.

Di sinilah peran negara dan pemerintah daerah menjadi krusial. Edukasi sanitasi bagi pedagang, pengawasan sumber air dan es batu, serta penyediaan fasilitas air bersih seharusnya menjadi bagian dari kebijakan kesehatan preventif. Upaya promotif semacam ini jauh lebih murah dibanding biaya pengobatan penyakit yang sebetulnya bisa dicegah.

Pada akhirnya, es teh dan kopi bukan sekadar soal selera, melainkan cermin dari cara kita memperlakukan kesehatan sebagai bangsa. Murah di tangan memang menggoda, tetapi mahal di tubuh jika dampaknya diabaikan. Kesadaran konsumen, tanggung jawab pedagang, dan kebijakan publik harus berjalan beriringan. Tanpa itu, kita akan terus meminum risiko, seteguk demi seteguk.

Comments
0 Comments

0 comments:

Posting Komentar

Arsip Blog